Petenis berusia 29 tahun itu mulai menunjukkan dominasinya di paruh kedua musim. Diawali dari titel juara Wimbledon, Murray juga sukses merebut medali emas Olimpiade Rio de Janiero, trofi China Terbuka, Shanghai Masters, Wina Terbuka, dan Paris Masters.
Pertarungan penentuan petenis nomor satu terjadi di ATP World Tour Finals, November lalu. Muray dan Djokovic saling berhadapan di partai puncak, yang akhirnya dimenangi petenis Skotlandia itu dengan skor 6-3, 6-4.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sangat terkejut karena ketika seorang petenis memulai musim seperti yang dilakukan Novak, mencapai impian dia dengan menjuarai Prancis Terbuka dan empat Grand Slam berturut-turut, tentu saja tidak akan ada orang ataupun para pemain yang mulai memikirkan ada orang petenis lain yang bisa finis sebagai nomor satu," ujar Federer kepada New York Times.
"Novak, terus terang, bukannya dia bermain buruk di paruh kedua musim. Dia memenangi Toronto [Rogers Cup]. Dia tampil di final banyak turnamen lain. AS Terbuka, ATP World Tour Finals," sambung maestro tenis asal Swiss ini.
"Anda akan berpikir bahwa itu akan sudah cukup, tapi apa yang dibutuhkannya adalah sesuatu yang luar biasa. Dan Murray mampu melakukannya, itulah di mana saya angkat topi [untuk dia]," sanjung dia.
(rin/rin)











































