DetikSport
Selasa 02 Januari 2018, 19:10 WIB

PBSI Pertanyakan Rencana BWF, dari Aturan Servis sampai Skor Akhir

Femi Diah - detikSport
PBSI Pertanyakan Rencana BWF, dari Aturan Servis sampai Skor Akhir Foto: Agung Pambudhy/detikSport
Jakarta - Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) mempertanyakan sederet rencana baru Federasi Bulutangkis Dunia (BWF). Apa saja?

BWF mewacanakan sejumlah aturan baru. Sebagian bakal direalisasikan mulai 2018 ini. Di antaranya, perubahan struktur turnamen dan aturan minimal kejuaraan yang harus diikuti pemain elite.

[Baca Juga: Susy Susanti soal Jadwal Padat Turnamen BWF 2018]

Selain itu, BWF berencana membatasi ketinggian shuttlecock saat servis, maksimal 1,15 meter. Aturan itu akan diterapkan mulai Maret pada All England, Kejuaraan Dunia, dan Piala Thomas Uber. Peraturan itu disetujui dalam BWF Council di di Montego Bay, Jamaika.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti, menilai peraturan itu tidak tepat. Dia tak menyetujuinya.

"Aturan itu membuat ada yang diuntungkan ada yang dirugikan. Pemain dengan postur pendek, seperti Akane, akan menganggap servis itu terlalu tinggi, tapi akan berbeda dengan pemain yang posturnya tinggi. Tinggi pemain berbeda-beda, bukan?" kata Susy yang dihubungi detikSport, Selasa (2/1/2018).

Sampai saat ini servis hanya membatasi kok berada di bawah pinggang pemain. Tak ada ukuran baku ketinggian kok dari lapangan.

Selain itu, Susy juga merespons rencana BWF yang mulai menjajal skor pertandingan menjadi 5x11 seperti yang dicetuskan pada Rapat Tahunan BWF Council 2014 di Lima, Peru. Durasi pertandingan dengan 3x21 yang cukup lama menjadi pertimbangan.

"Saya sedikit kurang setuju dengan format mencari poin, dengan 11 poin. Sudah sejak 2005 kita beradaptasi setengah mati dengan poin 21, sekarang mau diganti. Itu maksudnya apa?" ujar Susy.

"Skor yang lama, pindah bola seperti yang sama mainkan dulu diganti dengan reli poin 21 dengan pertimbangan satu pertandingan terlalu lama yang menjadikan sponsor susah masuk. Itu okelah. Saya rasa kalau dipersingkat lagi, bulutangkis akan kehilangan nilai seninya karena bahkan skor bisa didapatkan saat lawan kehilangan bola. Lama-lama permainan dari bulutangkis ini tidak ada lagi yang bisa dilihat," Susy menuturkan.

"Seharusnya BWF mencari solusi yang lebih riil. Misalnya tidak perlu deuce (sekarang setting) terlalu panjang. Dipangkas saja," dia menambahkan.



(fem/krs)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed