detiksport
Follow detikSport
Rabu, 17 Jan 2018 13:50 WIB

Tinjau Pelatnas Bulutangkis, CdM Minta Empat Emas di Asian Games

Mercy Raya - detikSport
Foto: Mercy Raya/detikSport Foto: Mercy Raya/detikSport
Jakarta - Bulutangkis mendapat target baru dari kepala kontingen alias CdM Asian Games 2018. Mereka diharapkan bisa menyumbangkan empat medali emas untuk kontingen Indonesia.

Keinginan itu muncul disampaikan di sela-sela tinjauan CdM Asian Games, Komjen Sjafruddin, ke pelatnas bulutangkis di Cipayung, Jakarta Timur, (17/1/2018). Pelatnas bulutangkis menjadi pelatnas pertama untuk memperkenalkan diri setelah berkoordinasi dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pekan lalu.

Komjen Syaffruddin, yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian RI, itu didampingi Wakil Ketua PBSI Alex Tirta, Sekretaris Jenderal PBSI Achmad Budiharto, dan Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Olahraga PBSI Susy Susanti.

Rombongan disambut atlet yang tengah berlatih seperti Kevin Sanjaya Sukamuljo, Marcus Gideon, Liliyana Natsir, dan Tontowi Ahmad.

Mengenakan jaket berwarna biru dongker, Sjafruddin langsung memberikan wejangan kepada para atlet. Dia menyampaikan dua hal untuk memotivasi para atlet.

CdM Asian Games 2018 Sjafruddin di pelatnas Cipayung, Rabu (17/1/2018) CdM Asian Games 2018 Sjafruddin di pelatnas Cipayung, Rabu (17/1/2018) Foto: Mercy Raya/detikSport

"Saya datang ke sini hanya untuk menyampaikan dua hal. Pertama sejarah perjalanan bangsa Indonesia dikenal oleh bangsa lain ketika kemerdekaan diraih ada tiga momentum. Ini saya ulangi terus setiap ketemu atlet. Pertama proklamasi, kemudian Konferensi Asia Afrika dan yang ketiga adalah Asian Games 1962. Dan di tahun itu kita berhasil baik itu penyelenggaraan maupun kesuksesan. Indonesia menduduki ranglgking ke dua setelah Jepang pada Asian Games ke-4," kata dia membuka sambutan.

"Yang kedua adalah di dalam perjuangan dalam mengangkat harkat martabat sebuah bangsa dimana pun dunia akan melihat tiga hal jika ingin dikatakan bangsa besar oleh bangsa lain. Pertama ketika negara itu ekonominya kuat, militernta kuat, dan olahraganya kuat," ujar Sjafruddin.

"Lalu dimana pilihan bangsa indonesia? Saya tak bicara ekonomi atau militer tapi olahraga. Indonesia bisa dihargai disegani ketika olahraganya kuat. Prestasinya maksimal. Sejarah panjang peradaban bangsa Indonesia mungkin saat prestasi Indonesia di kancah internasional ketika olahraga dan itu datang dari olahraga bulutangkis," ujarnya

"Dulu kita selalu juara olimpiade, juara dunia di mana-mana. Dan kami meyakini bagi cabang lain belum ada yang mencapai prestasi seperti bulutangkis. Itu yang membuat indonesia disegani dan bersyukur indonesia tetap disegani karena badminton. Tapi, kami juga sangat miris ketika prestasi bulutangkis menurun dalam satu dekade. Meski sekarang sudah meningkat dan itu harys mulai ditingkatkan lagi dimulai dari Asian Games," ujarnya.

"Di Asian Games kemungkinan tiga emas, tapi saya bilang empat. Supaya kita bisa menjadi bangsa besar dan disegani oleh bangsa lain dan ini tak perlu luntur," dia berharap.

Selain memberi wejangan, Sjafruddin juga menyempakan diri untuk melihat kondisi pelatnas. Dia meninjau tempat latihan fisik para atlet. Dia bahkan sempat bertanya soal treadmill yang telah terlihat kusam.

Tapi ketika tahu sudah sejak lama dia meminta agar media untuk tidak mengeksposenya karena akan menurunkan optimisme atlet.

"Yang seperti ini tak perlu di-publish karena atlet akan pesimistis justru yang kita bangun adalah semangat optimisme atlet," dia. (mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed