detiksport
Follow detikSport Linkedin share
Kamis, 01 Mar 2018 22:46 WIB

Agar Firman Tak Lekas Puas, Susy Terus Beri Motivasi

Mercy Raya - detikSport
Foto: Tim Humas Dan Media PP PBSI Foto: Tim Humas Dan Media PP PBSI
Jakarta - Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PB PBSI Susy Susanti memuji perkembangan Firman Abdul Kholik. Namun Susy juga ingatkan Firman agar tak lekas puas.

Firman mencuri perhatian usai menjadi penentu lolosnya Indonesia ke final Kejuaraan Bulutangkis Beregu Asia 2018 lalu. Pebulutangkis kidal itu sukses membalikkan keadaan usai tertinggal 14-20 dari Lee Dong Keun (Korea Selatan) pada partai kelima babak semifinal.

Penampilan Firman tersebut mendapat pujian dari PBSI, terutama Susy. Namun dia juga mengingatkan Firman agar tak lekas puas.

"Sebetulnya Firman itu berbeda dengan yang lain. Seharusnya dengan kelebihan dia sebagai pemain kidal itu menjadi keunggulan dia," kata Susy di Pelatnas Cipayung, Jakarta, Kamis (1/3/2018).

"Sekarang kembali lagi kepada atletnya, dia harus ekstra. Kan masih banyak yang kurang, baik tenaga, fisik, kemauan, daya juang, lalu kematangan, itu yang harus diperbanyak lagi. Jika sama terus bagaimana mau mengejar yang di atas," ungkapnya lagi.

Agar si pemain tak terlena, Susy mengatakan bahwa timnya tak pernah lelah untuk memberi motivasi dan dorongan. Sebab, jika Firman lengah bukan tak mungkin dia akan dibalap oleh pemain yang muda.

"Saat ini kami mencoba untuk memotivasi. Ayo pokoknya harus ekstra (kerja keras). Latihan yang lebih. Juara itu satu. Jika semua latihannya 4 jam maka harus lebih dari itu, bisa 5 jam atau 7 jam. Jadi kesadaran itu harus ditanamkan," ujar Susy.

"Sudah diberi treatment itu sekarang kembali kepada anaknya. Ada yang latihan sudah 7 jam tapi jika anaknya juga asal-asalan ya sama saja. Namun harusnya dari suasana PBSI dan banyaknya atlet muda harusnya yang senior bersaing. Siapa yang tidak siap, prestasinya yang mandek, itu akan mudah tersusul dengan pemain muda yang ada di Cipayung."

Ultimatum untuk yang Tak Serius Berkembang

Susy juga menyatakan semua atlet akan dievaluasi tiap enam bulan. Ultimatum akan diberikan kepada mereka yang tidak memiliki kemauan untuk berubah.

"Di sini ada pantauan, ada magang, jadi kami melihat dari enam bulan ke depan seperti apa. Jika dia sudah lewat dari pemain muda, ya lebih baik ambil yang muda. Karena kesempatannya lebih bagus yang muda. Jadi ultimatum ini sebenarnya untuk semua sektor," tuturnya.

"Sekarang ini sudah kami beri kesempatan. Dan bulutangkis sudah seperti pekerjaan, jika tidak serius maka kalian akan kehilangan pekerjaan itu. Sedangkan untuk mencapai yang tertinggi itu harus bersaing," tegas dia.

(mcy/nds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed