detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Minggu, 18 Mar 2018 07:41 WIB

Liem Swie King, 3 Gelar Juara dan 1 Misteri Final All England

Femi Diah - detikSport
LIem Swie King juara All England 1978, 1979, dan 1981. (Mercy raya/detikSport)
Jakarta - Ada kenangan yang dibicarakan di hari-hari kemudian. Salah satunya, misteri final All England 1976. Aktornya Liem Swie King dan Rudy Hartono.

"Aku memang sangat menyesal aku tidak menjadi juara All England 1976. Padahal aku merasa di puncak prestasi dan kondisiku sangat fit. Aku sungguh menyesal tidak bermain habis-habisan sampai 'berdarah-darah' dalam partai final All England itu".

Begitulah kalimat penutup yang dipilih King pada biografinya 'Panggil Aku King' bagian rahasia final All England. Buku itu ditulis Robert Adhi Ksp dan diterbitkan Juni 2009.

[Baca Juga: Ini Juara All England Kebanggaan Indonesia di Masanya]

Tahun itu tahun keemasan King. Dia juga menunjukkan penampilan sip sejak babak pertama All England. Ketajaman King juga dibuktikan dengan menang mudah atas pemain top waktu itu, Svend Pri, dari Denmark di babak semifinal. Di sisi lain, Rudy tak bugar setelah dikuras tenaganya oleh Paul Whetnall dari Inggris pada putaran empat besar.

Pokoknya, di atas kertas King diunggulkan untuk menjadi juara All England tahun itu. Tapi, King malah gembos di babak final. Dia kandas dan gelar juara menjadi milik Rudy.

Tak sedikit yang berspekulasi, King sengaja mengalah. Itu demi rekor Rudy di All England, delapan gelar juara dalam kurun waktu sembilan tahun. Disebut-sebut sih, PBSI terlibat dalam pengaturan skor tersebut.

"Pak Budi (Hartono, pemilik Djarum) merasa heran mengapa pertandingan selesai begitu cepat dan aku terlihat tidak bersemangat melawan Rudy Hartono," King mengenang.

Tapi, spekulasi itu tak pernah terbukti. Sampai sekarang.

[Baca Juga: Kalahkan Conrad/Kolding, Kevin/Marcus ke Final All England]

Kini sejarah mencatat kemenangan atas King itu mengukuhkan Rudy sebagai pemain paling sering menjadi juara All England di nomor tunggal putra. Istimewanya, tujuh gelar diraih secara beruntun, 1968-1974. Satu lagi didapatkan Rudy pada 1976.

Tapi, tak hanya soal misteri final dan dua gelar All England yang dibicarakan di hari-hari kemudian soal King kini. Dia tetap diingat sebagai legenda bulutangkis asal PB Djarum Kudus dengan julukan the king of smash. Sebuah jumping smash yang mematikan lawan.

King tercatat sebagai pemain yang tak terkalahkan sepanjang 33 bulan. Juga berperan dalam memboyong pulang Piala Thomas 1976, 1979 dan 1984 dari enam kali keikutsertaannya. King juga menjadi pemilik gelar juara All England 1978, 1979, dan 1981.

----
Bagi Anda yang ingin anak-anak menjadi bintang seperti mereka, segera ikuti audisi Umum Djarum Beasiswa ini. Informasi lebih lanjut bisa dilihat di sini.
(fem/mfi)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com