DetikSport
Rabu 21 Maret 2018, 01:47 WIB

PR Besar PBSI (Masih) di Tunggal Putra dan Putri

Mercy Raya - detikSport
PR Besar PBSI (Masih) di Tunggal Putra dan Putri Anthony Ginting langsung kandas di babak pertama All England 2018 (dok. Humas PBSI)
Tangerang - Masih ada PR besar menanti PBSI sepulang dari All England, yakni bagaimana mengatrol prestasi para pebulutangkis di nomor tunggal putra dan putri.

Indonesia membawa satu gelar dari turnamen itu usai Kevin Sanjaya/Marcus Gideon mengalahkan Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark) dengan skor 21-18 dan 21-17 di final kemarin.


Selain sukses mempertahankan, Kevin/Marcus juga jadi penyelamat muka Indonesia di ajang bulutangkis tertua dunia itu. Pasalnya tak ada wakil Indonesia lainnya yang melaju sampai ke semifinal, terutama ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

"Secara umum evaluasi ada hal yang cukup menggembirakan tapi juga tidak. Jika dilihat dari ganda putra, hasil undian tidak terlalu bagus sehingga beberapa ganda putra kita harus bertemu di babak-babak awal. Tapi secara umum sudah maksimal," kata Chief de Mission All England, Achmad Budihartom, di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (20/3/2018) malam WIB.

"Yang kedua ganda campuran. Selain mengejutkan tapi juga menggembirakan, sebab pasangan utama kami tidak bisa sampai partai puncak. Tapi untuk pasangan muda, Hafiz Faisal/Gloria Emanuelle Widjaja sudah walau akhirnya dikandaskan pasangan China. Jadi secara umum puas," sambungnya.


Lebih lanjut Budi menyebut PR terbesar organisasinya masih soal mencari pebulutangkis putra dan putri yang oke di nomor tunggal. Pasalnya Indonesia kandas di babak awal di sana.

"Memang pekerjaan rumah terbesar ada di dua sektor itu. Seperti Anthony Sinisuka Ginting yang belum bisa mengatasi seniornya Tommy Sugiarto pada babak pertama. Sementara Jonatan Christie yang tampil dominan di Kejuaraan Beregu Bulutangkis Asia di Malaysia, justru harus kandas cepat di All England ketika menghadapi Son Wan Ho (Korea Selatan)," jelas Budi yang juga Sekretaris Jenderal PBSI ini.

"Sedangkan tunggal putri memang harus kerja lebih keras lagi di level internasional."

Setelah All England, tim bulutangkis Indonesia bersiap menuju Piala Thomas dan Piala Uber 2018 di Bangkok, Mei mendatang.

"Kami tidak berkecil hati tapi kami juga tidak bisa lengah. Ke depan waktu tidak panjang lagi, ada Thomas Uber."


"Di Piala Uber harus kerja keras meski hasil kemarin kami mampu tembus ke semifinal dan setelah sekian puluh tahun tidak bisa kalahkan China, akhirnya bisa. Dan semifinal ketemu Jepang, kalah 0-3, tapi mereka tidak dapatkan dengan mudah, tiga-tiganya adalah rubber game dan itu tidak didapatkan dari tim lain."

"Jadi saya kira kami tidak perlu kecil hati tapi harus persiapkan diri lebih baik sehingga nanti yang terbaik bisa kita lakukan untuk negara dan bangsa pada Piala Thomas-Uber," pungkasnya.



(mcy/mrp)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed