detiksport
Follow detikSport
Rabu, 04 Apr 2018 15:32 WIB

Manis Olimpiade 2000 dan Pahit Kejuaraan Dunia 2003 untuk Herry IP

Femi Diah - detikSport
Foto: Grandyos Zafna/detikSport Foto: Grandyos Zafna/detikSport
Jakarta - Herry Iman Pierngadi merasakan manis anak didiknya meraih emas Olimpiade 2000 Sydney. Tapi, dia juga meneguk pahit di Kejuaraan Dunia 2003.

Baru naik jabatan sebagai pelatih kepala pelatnas ganda putra utama bulutangkis, Herry mampu mengantarkan anak asuhnya sebagai peraih emas olimpiade. Adalah Tony Gunawan/Candra Wijaya yang mendapatkannya.

Tony/Candra mendapatkan emas setelah mengalahkan pasangan Korea Selatan, Lee Dong Soo/Yoo Yong Sung di partai final. Mereka menang tiga set 15-10, 9-15, 15-7.

Herry menganggap medali emas Sydney itu sebagai pencapaian paling fenomenal sepanjang kariernya sebagai pelatih. Tiada lain.

[Baca Juga: Cedera Lutut dan Jose Mourinho Punya Andil Dalam Sukses Herry IP]

"Turnamen yang mengesankan Olimpiade 2000. Sebab, kami dapat medali emas," kata Herry.

"Selain itu, saya masih meniti karier, sebagai ajang pembuktian. Saya juga membayar kepercayaan dari PBSi dan Koh Chris (Christian Hadinata)," Herry menambahkan.

[Gambas:Video 20detik]

Jika Olimpiade 2000 Sydney menjadi ajang paling mengesankan, adakah turnamen yang ingin dilupakan Herry?

"Kejuaraan Dunia 2003! Harusnya juara, tapi Candra dan Sigit ribut saat mau final. Ribut sendiri. Nggak mau main," ujar Herry.

Menurut Herry, saat itu, kedua pemain mulai tak akur. Kedua pemain kerap berbeda pendapat. Candra masih intens latihan. Sigit mulai kurang fokus. Candra pun mulai mengungkapkan keinginan untuk berganti pasangan.

Meski begitu, mereka masih jagoan. Waktu itu, Sigit dan Candra setara dengan Kevin Sanajya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi GIdeon saat ini, tengah berada di puncak. Jika lolos ke final, boleh dibilang 99 persen bakal juara.

"Saat berangkat juga belum ribut. Betul-betul menjelang final, wong sudah menang di semifinal, mereka ribut. Sigit nggak mau main di final. Apa nggak pusing saya," tutur Herry.

Setelah dirunut, rupanya, media massa yang terbit di Tanah Air telah memberitakan Candra dan Sigit bakal diceraikan. Tak peduli juara atau enggak. Kabar itu sampai ke telinga Sigit.

[Baca Juga: Herry Iman Pierngadi: Karena Saya Pelatih Zaman Now]

"Sigit juga mengira saya yang berencana memisahkan mereka. Padahal pemainnya yang nggak mau. Harinya, dua pemain itu dipertemukan. Ada penengahnya, Koh Chris. kami berempat itu di kamar," ujar Herry.

Herry dan Christian sedikit lega. Sigit dan Candra berikrar tetap turun di babak final.

"Tapi, ternyata mereka tampil ogah-ogahan di lapangan. Set pertama kalah, set kedua menang, set ketiga kalah. Juara sudah di depan mata," Herry menjelaskan.

Di final itu, Candra/Sigit tunduk di tangan Lars Paaske/Jonas Rasmussen dari Denmark dengan skor 7-15, 15-13, dan 13-15.


(fem/rin)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed