DetikSport
Selasa 03 April 2018, 14:10 WIB

Cedera Lutut dan Jose Mourinho Punya Andil Dalam Sukses Herry IP

Femi Diah - detikSport
Cedera Lutut dan Jose Mourinho Punya Andil Dalam Sukses Herry IP Herry Iman Pierngadi, pelatih ganda putra pelatnas PBSI (Grandyos Zafna/detikSport)
Jakarta - Prestasi Herry Iman Pierngadi sebagai pemain tak sukses-sukses amat. Cedera lutut dan Jose Mourinho memengaruhi sukses Herry sebagai pelatih bulutangkis.

Herry tak bisa melupakan Kejuaraan Nasional antarklub di Pontianak 1988. Di salah satu pertandingan mewakili PB Tangkas Jakarta, Herry yang berpasangan dengan Suganyanto yang menghadapi Edy Hartono/Gunawan, yang kemudian tercatat sebagai juara All England 1992, harus menyerah sebelum skor akhir. Herry cedera lutut.

"Ligamen lutut kiri lepas. Saat itu, lawan servis dan saya berusaha untuk mengembalikan bola pertama. Tapi, salah mendarat setelah loncat. Tahu-tahu cedera. Dokter bilang lutut saya geser," kata Herry mengenang peristiwa itu.

"Setelah pertandingan saya coba penyembuhan, terapi. main lagi copot lagi. Main lagi, copot lagi, sampai tiga kali," kata Herry yang waktu itu masih berada di usia produktif, 26 tahun.

[Gambas:Video 20detik]

Di masa penyembuhan itu, Herry mendapatkan tawaran untuk menjadi pelatih PB Tangkas Jakarta. Mengingat rentetan penyembuhan cedera tak kunjung berhasil, Herry menerima ajakan Luis. Dia pun bergabung dengan PB Tangkas di tahun 1989.

"Kalau dipikir-pikir, ya enggak pernah berpikir untuk jadi pelatih. Karena cedera itu kemudian mendapatkan tawaran, saya jadi pelatih," ujar Herry.

Herry Iman Pierngadi, pelatih ganda putra pelatnas PBSIHerry Iman Pierngadi, pelatih ganda putra pelatnas PBSI (Grandyos Zafna/detikSPort)

Sebagai pelatih, peruntungan Herry berubah. Dari pemain medioker, dia justru menjadi pelatih klub Tangkas yang paling sering mengantarkan pemain menjadi juara.

Kebijakan di PB Tangkas juga mendukung koceknya. Pelatih mendapatkan bagian dengan persentase tertentu dari hadiah yang diterima pemain.

Melompat ke Pelatnas

Rentetan hasil sip bersama klub itu membuat PP PBSI memercayakan tim junior yang akan bertanding di Kejuaraan Dunia Junior Bulutangkis 1992 di Jakarta kepadanya. Herry ditunjuk menangani skuat Indonesia yang diisi oleh, antara lain, Kusno dan Budi Santoso serta Sigit Budiarto.

[Baca Juga: Herry Iman Pierngadi, Sosok di Balik Sukses Kevin/Marcus di All England]

Herry membuktikan dia memiliki tangan emas. Terciptalah all Indonesian final ganda putra, Budi Santoso dan Kusno melawan Namrih Suroto dan Sigit Budiarto. Budi/Kusno keluar sebagai juara.

"Gelar juara dunia ganda putra itu bahkan belum terulang lagi sampai sekarang," kata Herry.

[Baca Juga: Herry Iman Pierngadi: Karena Saya Pelatih Zaman Now]

Setelah kejuaraan itu pula, Herry mengikuti pendidikan lisensi pelatih yang diadakan IBF, sekarang BWF (Federasi Bulutangkis Dunia).

Sukses Herry bersama skuat junior itu menjadi tiket Herry bergabung dengan barisan pelatih pelatnas mulai Maret 1993. Di pelatnas pratama diisi oleh, antara lain, Tony Gunawan, Candra Wijaya, Halim Haryanto. Kemudian menyusul Sigit Budiarto.

Lima tahun menangani tim pratama, Herry naik kelas. Dia dipercaya menggantikan Christian Hadinata sebagai head coach pelatnas ganda putra utama.

Herry Iman PIerngadi tengah mengawasi pemasangan senar pemain pelatnas PBSI. Herry Iman PIerngadi tengah mengawasi pemasangan senar pemain pelatnas PBSI. (Grandyos Zafna/detikSport)


"Koh Chris naik ke pengurus. Dia bilang, 'Saya percaya kamu, saya naik ke pengurus. Kamu jadi pelatih utama'," ujar Herry.

[Baca Juga: Tangan Dingin Herry Iman Antarkan Kevin/Marcus ke Puncak Dunia]

Debut Herry sebagai pelatih pelatnas utama bukan turnamen yang main-main. kemampuannya diuji di All England 1999. Herry menjawab dengan mengantarkan Candra/Tony menjadi juara.

"Sebelumnya Candra dan Tony sudah juara di mana-mana. Mereka kan juara dunia 1998 yang masih dilatih oleh Koh Chris dan Pak Atik," Herry menjelaskan.

Sejak itu, Herry terus mendampingi pelatnas ganda putra. Sempat rehat pada 2008 hingga 2011, Herry kembali menduduki kursinya.

Sederet prestasi anak buahnya menjadi bukti tangan dinginnya. Termasuk medali emas Olimpiade 2000 Sydney dari Tony dan Candra.

Tapi, Herry belum mau berhenti. Dia berharap masih bisa mencetak pasangan-pasangan juara lagi.

"Saya salut dengan Jose Mourinho. Dia manapun berada, dia mampu mencetak juara. Saya berharap bisa seperti dia, tidak mau berhenti untuk mengantarkan sebuah tim meraih juara," ujar pria kelahiran Pangkal Pinang, Bangka 21 Agustus 1962 itu.



(fem/din)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed