Aljazair di Piala Thomas: Skuat Minimalis, Diisi Pelajar dan Pegawai Restoran

Okdwitya Karina Sari - Sport
Kamis, 24 Mei 2018 13:52 WIB
Pebulutangkis Aljazair Koceila Mammeri (Okdwitya Karina Sari/detikSport)
Bangkok - Aljazair tidak hanya mengejutkan dengan lolos ke putaran final Piala Thomas 2018. Mereka tampil dengan skuat minimalis dan tanpa pemain profesional.

Aljazair lolos ke Bangkok setelah menjadi juara Kejuaraan Bulutangkis Beregu Afrika, yang digelar pada Februari 2018. Bagi Aljazair, ini adalah pertama kalinya mereka berlaga di Piala Thomas.

Tergabung di Grup D bersama Denmark, Malaysia, dan Rusia, tidak ada ekspektasi lebih untuk Aljazair. Aljzair sudah tersingkir setelah melakoni 15 pertandingan di tiga laga grup tanpa sekali pun meraih kemenangan.

Baca Juga: Malaysia Prediksi Laga Ketat Dengan Indonesia

"Sebuah kehormatan besar bagi kami (bisa berlaga di Piala Thomas)," ucap pebulutangkis Aljazair Koceila Mammeri saat ditemui di mixed zone Impact Arena, Bangkok, Rabu (23/5/2018).

"Kami melawan pemain-pemain top seperti dari Denmark, Malaysia. Jadi, kami benar-benar menikmati pertandingannya karena mungkin ini bisa jadi satu-satunya waktu Aljazair bisa tampil di Piala Thomas," dia menambahkan.

Wajar jika Mammeri tak menyimpan ekspektasi tinggi di Piala Thomas. Mereka memiliki skuat minim. Untuk tampil dalam tiga pertandingan fase grup, Aljazair hanya memiliki lima pemain. Merekalah yang tampil di nomor tunggal dan ganda putra. Mammeri bermain di nomor tunggal saat melawan Rusia, dan berpasangan dengan Youcef Sabri Medel ketika menantang Malaysia, dan juara bertahan Denmark.

Baca Juga: Tim Thomas Indonesia Jumpa Malaysia, Tim Uber Lawan Thailand

Selain itu, tak ada pemain profesional dalam skuat Mammeri. Mereka memiliki bermacam-macam profesi. Dukungan pemerintah memang cukup untuk mengikuti kejuaraan, namun menjadi pebulutangkis belum bisa menjadi pilihan karier di masa depan.

Mammeri, yang masih berusia 19 tahun, masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas INSA, Lyon, Prancis.

"Para atlet tentu membutuhkan dukungan dari pemerintah. Ada banyak turnamen diselenggarakan di Aljazair," dia menjelaskan.

"Di Aljazair tak punya pemain profesional. Kami mempunyai banyak pemain yang masih belajar, seperti saya," ujar dia.

"Dua pemain Aljazair tinggal di Prancis dan mereka bekerja dan melatih di sebuah klub kecil. Ada beberapa teman setim saya yang kerja di restoran, dan dua pemain lain yang tinggal di Aljazair masih SMA," kata Mammeri, dengan bahasa Inggris yang tidak lancar-lancar amat.

Mammeri mengaku sudah berlatih bulutangkis sejak kecil, yang ditularkan oleh kedua orang tuanya.

"Aku sudah berlatih badminton sejak usia 8 tahun. Aku menekuni bulutangkis karena orang tuaku juga berlatih bulutangkis lalu aku coba-coba dan menyukainya." Mammeri menjelaskan.

"Olahraga ini sudah menjadi bagian dari hidupku," Mammeri memungkasi.

(rin/fem)