DetikSport
Selasa 10 Juli 2018, 14:42 WIB

Ini Evaluasi Susy Susanti dari Indonesia Open 2018

Mercy Raya - detikSport
Ini Evaluasi Susy Susanti dari Indonesia Open 2018 Foto: Grandyos Zafna/detikSport
Jakarta - Ganda campuran dan ganda putra membuat tuan rumah meraih dua gelar juara dari Indonesia Open 2018. Tapi, tiga sektor lain belum menunjukkan peningkatan.

Dua gelar juara dari turnamen BWF super 1000 itu diraih dari ganda campuran, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, dan ganda putra, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Untuk tiga sektor lain belum bisa bicara banyak.

Tunggal putra dan putri berguguran di babak 16 besar. Sementara, ganda putri sampai perempatfinal.

Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti, menyadari lemahnya sektor tunggal putra dan putri serta ganda putri. Dia butuh waktu untuk meningkatkan performa pemain.



"Saya (kemarin) memang tidak mau muluk-muluk karena melihat persaingan ketat. Makanya target minimal satu sambil membenahi yang tiga sektor lain. Tapi, ternyata mendapat dua tentu betul-betul melebihi target," kata Susy kepada detikSport, Selasa (10/7/2018).

Kualitas Ganda Putri Belum Sampai Level BWF Super 1000

PBSI menurunkan cukup banyak wakil di ganda putri. hasil terbaik diraih Greysia Polii/Apriyani rahayu dengan mencapai babak perempatfinal. Mereka dikalahkan Yuki Fukushima/Sayaka Hirota.

Susy menyebut kelas sektor ganda putri belum bisa bersaing di Indonesia Open, yang mulai tahu ini naik level.

"Tapi, sektor lainnya, seperti ganda putri mungkin level superseries sudah mulai bisa tapi tidak untuk level premier. Begitu dengan sektor tunggalnya, utamanya yang putri," ujarnya menambahkan.

Ubah Tunggal Putri Tak Bisa dengan Sim Salabim

Tuan rumah menurunkan empat wakil pelatnas di tunggal putri Indonesia Open. Hanya Gregoria Mariska Tunjung yang lolos ke babak kedua. Fitriani, Dinar Dyah Ayustine, dan Lyanny Allesandra terhenti di babak pertama.

"Kami paham lah. Kalau tunggal putri, saat saya masuk kemudian sim salabim satu dua tahun langsung juara kan tidak juga. Ya, harus melihat stok pemain juga apalagi dengan hilang satu generasi," ujar Susy.



"Jepang saja butuh bertahun-tahun cuma saya juga tidak mau seperti itu. Tapi, bagaimana lima tahun atau dua tahun ke depan minimal masuk dulu di level elit dunia atau minimal juara di superseries," kata Susy.

"Seperti akhir tahun ini saya berharap pemain kami masuk di 20 besar dunia. Saat ini Gregoria Mariska berada di 33 besar dunia. Kami tak mau muluk-muluk dia harus juara dunia senior. Paling tidak meningkatkan jam terbang dan menggodok dia dulu," tuturnya.

Tunggal Putra Tak Boleh Kekanak-kanakan Lagi

Di sektor tunggal putra, Indonesia hanya mampu mendapatkan dua tempat di Indoensia Open: Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting. Jonatan disingkirkan Viktor Axelsen (Denmark) di babak pertama, Anthony dikandaskan Kento Momota (Jepang), yang kemudian menjadi juara.

"Tunggal putra pun kami ada pekerjaan rumah bagimana cari mematangkan mereka yang saat ini berada di rangking 11 dan 12 supaya lebih konsisten dan yakin lagi. Dari strategi permainan terutama saat melewati kesulitan utamanya di poin kritis. Hal itu yang masih perlu dibenahi," Susy menegaskan.


(fem/fem)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed