detiksport
Follow detikSport
Kamis, 26 Jul 2018 19:15 WIB

Antisipasi PBSI agar Atlet Tak Mudah Cedera di Tengah Jadwal Padat

Mercy Raya - detikSport
Pebulutangkis tunggal putri Fitriani tengah berlatih di Pelatnas Cipayung (Foto: Indrianto Eko Suwarso/Antara Foto) Pebulutangkis tunggal putri Fitriani tengah berlatih di Pelatnas Cipayung (Foto: Indrianto Eko Suwarso/Antara Foto)
Jakarta - Para pebulutangkis Indonesia akan menjalani jadwal padat hingga bulan September. PBSI sudah menyiapkan strategi agar mereka tak cedera. Seperti apa?

Agenda terdekat untuk para pebulutangkis Indonesia adalah Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2018 yang akan dilangsungkan di Nanjing, China, pada 30 Juli-5 Agustus 2018. Setelahnya, mereka akan terjun ke Asian Games 2018 yang dimulai pada pertengahan Agustus.

Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti, menyadari bahwa menjalani dua agenda penting dalam waktu berdekatan bukanlah perkara mudah. Sebagai informasi, dari 29 atlet yang dikirim ke Kejuaraan Dunia Bulutangkis, sebagian besar juga akan tampil di Asian Games.

"Saya selalu positif ya. Kalau kita berpikir 'aduh takut cedera' maka yang dipikirkan akan terjadi. Jadi jangan berpikir negatif. Kalau saya selalu katakan positif, positif, yang penting persiapannya," kata Susy yang juga manajer tim di Kejuaraan Dunia 2018, di Pelatnas Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (26/7/2018).

"Contohnya kita harus persiapkan diri sebelum latihan karena cedera itu sebetulnya karena keteledoran kita. Jadi si atlet harus tahu dirinya sendiri untuk pemanasan seperti apa, stretching seperti apa, kalau merasa ketarik kami 'kan ada fisioterapis dan masseur," tambahnya.


Susy menjelaskan, tim pelatih sebenarnya juga sudah mengantisipasi agar para atlet terhindar dari cedera.

"Dari pelatih sebetulnya sudah siapkan program. Untuk seumpama persiapan menuju Asian Games. Tapi sebelumnya tentu ada pertandingan lainnya. Jadi pada saat latihan keras, performa tinggi, tentu teknik dan fisik jauh-jauh hari digembleng," ujar Susy.

"Kemudian mendekati itu akan ada penurunan volume latihan, tapi lebih banyak strategi akurasi pukulan. Jadi membiasakan atlet untuk seperti saat pertandingan."

"Jadi kelemahan atlet yang dianalisis pelatih, lalu misalnya komunikasi atlet yang kurang bagus di lapangan kami masukkan psikolog. Memang ada hal-hal dari si atlet yang punya kebiasaan dan harus ada penanganan khusus. Jadi pelatih tak bisa pukul rata pada satu program," ujarnya.

(mcy/mfi)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed