DetikSport
Senin 06 Agustus 2018, 19:40 WIB

Akui Hasil Sip Jepang di Kejuaraan Dunia, Susy Cari Solusi untuk Indonesia

Mercy Raya - detikSport
Akui Hasil Sip Jepang di Kejuaraan Dunia, Susy Cari Solusi untuk Indonesia Foto: Lintao Zhang/Getty Images
Jakarta - Indonesia kalah telak di tangan Jepang dengan skor 0-7 di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2018. Susy Susanti akan segera mencari solusi untuk membenahinya.

Kejuaraan Dunia Bulutangkis berlangsung 30 Juli sampai 5 Agustus di Nanjing, China. Jepang dan China sama-sama mengantongi dua gelar. Sementara, satu gelar juara direbut Spanyol lewat Carolina Marin (tunggal putri).

Alih-alih mempertahankan gelar juara, Indonesia gagal menempatkan wakil ke babak final. hasil terbaik ditunjukkan ganda putri, Greysia Polii/Apriyani Rahayu, dengan meraih medali perunggu.




Menilik laju pemain Indonesia di Nanjing itu, tujuh wakil Indonesia dihentikan pemain Jepang. Di akhir turnamen, Jepang meraih dua gelar juara, dari sektor tunggal putra, Kento Momota, dan Mayu Matsutomo/Wakana (ganda putri).

Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PBSI, Susy Susanti, mengakui kehebatan Jepang. Dia bilang Jepang meraih sukses itu setelah melalui proses pembinaan kurang lebih 50 tahun.

"Kalau melihat prestasi Jepang memang cukup bagus meski tidak setiap kejuaraan mereka mendominasi. Tapi, minimal dari kestabilan mereka lumayan," kata Susy ketika dihubungi pewarta Senin (6/8/2018).

"Tapi setiap pertandingan itu kan suasananya beda. Di mana kemarin Indonesia Open 2018, China sama sekali tidak dapat apa, di sini (Kejuaraan Dunia) mereka dominan. Masyarakat pun maunya menang-menang tapi kan banyak pertandingan, performa atlet tentu juga ada naik turunnya. Nah, ini yang memang harus kami cermati juga," dia menambahkan.




"Intinya kami cari solusi lah. Kami juga harus melihat kemampuan kami seperti apa. Intinya kami kerja keras karena untuk menjadi juara tidak bisa seperti sim salabim. Jepang pun untuk menjadi juara harus menunggu 50 tahun dulu. Semua ada prosesnya," dia menjelaskan.

"Dan banyak faktor lah. Satu memang karena persaingan merata, realistis saja. Siapa yang berani bilang negara A bisa dominasi lima sektor, siapa yang berani? Kami pun tidak bisa asal ngomong. Kami berikan bukti bukan janji, realistis saja persaingan saat ini memang merata. Kami pun tak malu mengakui di beberapa sektor kami memang tertinggal dan butuh lathan. Tapi itu tidak mungkin instan," ujar dia.


(mcy/fem)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed