detiksport
Follow detikSport Linkedin share
Jumat, 23 Nov 2018 17:25 WIB

Richard Mainaky Godok Banyak Ganda Campuran ke Olimpiade 2020

Mercy Raya - detikSport
Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti bukan satu-satunya ganda campuran yang disiapkan ke Olimpiade 2020. (Agung Pambudhy/detikSport) Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti bukan satu-satunya ganda campuran yang disiapkan ke Olimpiade 2020. (Agung Pambudhy/detikSport)
Jakarta - Pelatih ganda campuran pelatnas bulutangkis, Richard Mainaky, tak hanya menyiapkan satu pasangan menuju Olimpiade 2020 Tokyo. Dia juga sudah menyiapkan turnamen yang diikuti.

Perhitungan poin Olimpiade akan dimulai Mei 2019. Meski bergulir enam bulan lagi, Richard tak ingin kecolongan. Richard bertekad melanjutkan hasil manis di Olimpaide Rio de Janeiro 2016 lewat pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Kali ini, tugas Richard boleh dibilang lebih berat. Ganda campuran pelatnas kehilangan dua pemain putri ganda campuran yang cukup matang sekaligus, Liliyana dan Debby Susanto.

Makanya, Richard harus pandai-pandai memaksimalkan stok yang ada. Dia menyiapkan Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti. Menyusul, Tontowi, Ronald Alexander/Annisa Saufika, Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami, Rinov Rivaldy/Phita Haningtyas Mentari, Akbar Bintang Cahyono/Winny Oktavina Kandow.




"Yang sudah pasti Hafiz/Gloria, Praveen/Melati, Ronald/Annisa, dan Eko/Gischa. Nah, di bawah itu bisa terjadi tukar pasangan nanti. Kalau dua pasang teratas sudah pasti tidak bisa karena Mei 2019 sudah masuk perhitungan Olimpiade. Tapi bukan berarti Mei itu dimulai dari nol ya, tapi meneruskan poin yang sudah ada," kata Richard kepada detikSport, Jumat (23/11/2018).


Richard Mainaky, pelatih pelatnas PBSI ganda campuranRichard Mainaky, pelatih pelatnas PBSI ganda campuran (Rachman Haryanto/detikSport)


Di sisi lain, Richard juga mulai berhitung soal turnamen-turnamen yang bakal diikuti oleh atletnya mulai tahun depan. Satu kendala yang dia hadapi karena penampilan gandanya yang inkonsisten sehingga dia harus membuat beberapa rencana untuk menutupi poin.

"Kalau dulu kan saat Tontowi/Liliyana, mereka berangkat sudah pasti final, jadi tidak masalah. Untuk Hafiz/Gloria kami butuh cadangan turnamen. Jadi, misalnya, berangkat ke negara A, dia target semifinal, tapi ternyata dapat 16 besar atau delapan besar. Saya harus cepat tukar dengan turnamen lainnya, gali lubang tutup lubang untuk menutupi yang gagal target itu," dia menjelaskan.

"Ini sama kejadiannya seperti model Praveen/Debby. Mereka bersaing dengan pasangan Korea, dan bisa dibilang hampir 25 turnamen yang mereka ikuti dan akhirnya lolos. Dan kami harus melakukan itu saat ini," dia mengungkapkan.




(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed