detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Selasa, 22 Jan 2019 16:30 WIB

Perbincangan di Sore Karier Liliyana Natsir Sebelum Nyanyi Perpisahan Dilantunkan

Mercy Raya - detikSport
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Liliyana Natsir akan menjalani laga penutup kariernya di Indonesia Masters 2019. Bulutangkis bukan sekadar lahan mencari uang buatnya.

Indonesia Masters berlangsung di Istora, Senayan, 22-27 Januari 2019. Di ajang itu, Liliyana akan kembali berpasangan dengan Tontowi Ahmad, yang merupakan duetnya sejak 2010.

Bersama Tontowi, Liliyana menggila. Dia menjadi pemain putri di sektor ganda putri yang disegani. Pertahanan solid dan permainan netting maut membuat lawan-lawan keder.

Hasilnya, sekeping medali emas Olimpiade 2016 Rio de Janeiro dan dua gelar juara dunia, serta hattrick titel di All England menjadi lanjutan gelar juara dunia yang diraihnya bersama Nova Widianto. Sejak berlatih pertama hingga kini, LIliyana menghabiskan waktu 25 tahun bersama-sama bulutangkis. Seperempat abad, dia memegang raket dan bergumul dengan kok setiap hari, pagi dan sore,

Soal materi tak perlu ditanya. Bonus dan hadiah dikantongi sebagai bayaran jerih payah Liliyana dari lapangan.


Kini, usia Butet, sapaan karib Liliyana, telah 33 tahun. Mau tak mau, pebulutangkis kelahiran Manado itu usia.

Panggung terakhir untuk Liliyana sudah digelar. PBSI menyiapkan sebuah perpisahan menjelang final Indonesia Masters.

Liliyana Natsir saat berpasangan dengan Nova WidiantoLiliyana Natsir saat berpasangan dengan Nova Widianto (Miguel Medina/AFP)

Sebelum karpet perpisahan dibentangkan, detikSport berkesempatan mewawancarai Liliyana. Berikut petikannya:

detikSport (d): Bagaimana persiapan Anda menjelang Indonesia Masters ?

Liliyana Natsir (L): Persiapannnya, saya sudah jarang dengan Tontowi karena dia turnamennya partner dengan yang lain, seperti di Hong Kong dia bersama Della Destiara Haris, kemudian di Malaysia Masters bersama Debby Susanto, jadi memang partneran dengan saya sedikit. Cuma, kami sudah lama jadi sedikit banyak sudah tahu sama lain.

d: Apa target Anda di Indonesia Masters?

L: Sejujurnya beda dengan turnamen-turnamen sebelumnya. Sebelumnya, saya masih aktif banget untuk mempersiapkan diri, tapi di turnamen ini terakhir buat saya jadi latihan bersama Tontowi jarang karena dia juga ikut turnamen.

Ya saya juga latihan kadang suka bolong-bolong, karena sudah di akhir turnamen saya. Saya sudah mau berhenti kan, pasti motivasinya lain. Tapi, saya akan berusaha mengeluarkan kemampuan terbaik saya dengan Tontowi, karena ini pertandingan terakhir saya.

d: Jadi tetap pasang target sini?

L: Bukannya tidak mau dikasih target ya. Cuma selama ini sudah belasan tahun dikasih target terus, di ganda campuran. Jadi, saat ini saya cuma mau enjoy, saya menikmati, support Tontowi karena setelah ini, dia akan berpartner dengan yang lain.


d: Setelah pensiun berarti mau balas dendam?

L: Balas dendam awalnya. Seperti bangunnya siang, tapi tidak siang banget. Kalau siang juga pusing banget. Ya lebih relaks, kalau biasanya alarm berbunyi langsung bangun cepat atau lagi nongkrong sama teman, lagi asyik, tapi harus pulang cepat.

Karena, itu momen yang hilang. Apalagi, libur kan cuma tiga hari, ponakan masih libur, mama papah dari Manado, tapi saya harus kembali ke pelatnas. Itu yang akhirnya mama bilang sudah cukup. Mama mau kumpul keluarga yang komplet.

[Gambas:Instagram]

d: Menurut Liliyana siapa pasangan yang pantas buat Tontowi?

L: Itu yang saya bingung karena belum dapat yang pas. Kalau saya harap Tontowi membimbing pemain muda agar dia menjadi leader. Harus siap capek, sabar, dan mengayomi.
Karena kami yang di lapangan, ketika partner sedang tegang kami harus bisa mencairkan di lapangan, partner lagi bingung juga kami harus support terus, padahal di saat itu belum tentu kondisi kami lagi enak mainnya. Tapi kami harus kontrol diri sendiri dan partner juga. Saya rasa dengan pengalaman Tontowi dan prestasinya dia, harusnya dia bisa.

d: Momen paling membahagiakan kamu dengan Tontowi apa saja?

L: Ya juara olimpiade karena itu full stress, tegang, beban, apalagi di semifinal tinggal kami berdua, jadi ibaratnya muka prestasi olahraga di tangan kita. Jadi, momen itu yang tidak bisa dilupakan dan sering chat, saling mengingatkan, support, itu yang paling krusial dan stress saat Olimpiade itu.

d: Momen yang paling membuat terpuruk?

L: Kejuaraan Dunia 2015 di Indonesia. Karena, saya menghadapi Zhang Nan/Zhao Yunlei, musuh bebuyutan, di gim kedua 20-18 dan saya kalah.
Itu yang kesempatan kami sia-siakan. Ya memang kami tidak mau kalah, cuma momen itu kan tinggal satu poin lagi masa tidak bisa. Apalagi tuan rumah suporter sudah luar biasa mendukung kami.

d: Itu rasanya bagaimana?

L: Itu saat di podium sudah menahan tangis, yang juara kan Zhang Nan/Zhao Yunlei, sudah nahan tangis juga, harusnya saya di situ tempatnya. Tapi, namanya atlet akan mengalami masa menang dan kalah, ya itu lah bagian dari hidup seorang atlet.


d: Di bandingkan ketika bersama Liliyana, Tontowi sepertinya kesulitan cari pendamping yang pas. Bagaimana pendapat Anda?

Mungkin karena sudah lama banget saya berpartner dengan dia jadi ibaratnya sudah, bukan ketergantungan sih, tapi lebih seperti kebiasaan dengan cara main saya.
Nah, pada saat dia mencoba dengan yang baru butuh proses. Apalagi, jadi leader itu menurut saya tidak mudah, butuh sabar, mental, semuanya lah. Itu yang juga Tontowi harus punya dan kerja keras karena dia yang harus lebih dominan.

Perbincangan di Sore Karier Liliyana Natsir Sebelum Nyanyi Perpisahan DilantunkanFoto: REUTERS/Mike Blake

d: Di momen-momen terakhir ini apa yang ingin kamu sampaikan kepada suporter Indonesia ?

L: Apa ya? Tadi saya juga sempat bicara dengan Ci Yuni Kartika, nanti saya harus bagaimana ya. Sebenarnya saya sudah galau juga, mau ngomong bagaimana. Jangan sampai saya galaunya hari Minggu, di pertandingan galau juga. Amit-amit dah. Pasti lah ada kepikiran saya harus bagaimana. Cuma kan ya paling kurang lebih, mengucapkan terimakasih untuk support-nya, pasti lah di sekian banyak prestasi saya ada yang mengecewakan, di luar ekspektasi, juga ada. Cuma saya ucapkan terimakasih juga untuk dukungan buat Tontowi/Liliyana, Istora selalu menggema, Owi/Butet, walaupun sempat turun kemudian naik lagi, mereka tetap mendukung.

Suporter Indonesia sudah luar biasa lah mendukung atlet kalah atau menang. Kalau nyinyir sudah biasa lah tinggal bagaimana kita menyikapinya saja. Karena tak mungkin semua orang suka sama kita pasti kan ada yang tidak suka. Tapi jadikan cambuk, motivasi, bahwa kita akan memberikan prestasi lebih.

d: Apa yang bakal dirindukan setelah meninggalkan bulutangkis?

L: Pastinya main di Istora dengan teriakan Tontowi/Liliyana. Masuk merinding, terharu, bangga, berapa ribu penonton kan teriak. Kedua, saya bersama teman-teman atlet lainnya, rutinitas setiap hari, kehidupan di asrama, saat pertandingan, suasanannya, pasti kangen. Ya harus saya siapkan dari sekarang, Tidak mungkin saya main sampai usia 40-50, mau sampai sekarang, tahun depan, atau dua tahun lagi, pasti juga akan pensiun juga. Jadi ini saat saya berhenti harus siap, tegar, apapun itu nanti.

d: Arti bulutangkis buat Anda?

L: Ini sudah jadi bagian dari hidup saya, hobi saya, bulutangkis yang membesarkan nama saya, saya bisa menjadi kebanggaan keluarga, memberikan prestasi buat Indonesia dan masyarakat juga.

(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com