detiksport
Follow detikSport Linkedin share
Minggu, 27 Jan 2019 10:40 WIB

Waktu Melepas Liliyana Natsir Segera Tiba

Femi Diah - detikSport
Liliyana Natsir menyampaikan salam perpisahan siang ini di Istora. (Pradita Utama/detikSport) Liliyana Natsir menyampaikan salam perpisahan siang ini di Istora. (Pradita Utama/detikSport)
Jakarta - Liliyana Natsir pensiun. Siang ini, dia akan manggung untuk terakhir kalinya, di final Indonesia Masters 2019. Disiapkan sebuah pesta kecil di Istora.

"Cepat atau lambat, suka atau tidak suka, waktunya akan tiba. See you at Istora".

Itu sebagian kalimat yang ditulis Liliyana di akun Instagram miliknya sebelum Indonesia Masters bergulir. Seperti sebuah pengingat kalau Butet, sapaan karibnya, pamitan sebentar lagi.

Liliyana sudah ancang-ancang untuk pergi. Dia seolah-olah bukan hanya menyiapkan dirinya sendiri untuk meninggalkan olahraga yang sudah membesarkan namanya itu. Tapi, Butet, sapaan karib Liliyana Natsir, juga memberikan kelapangan kepada fans untuk pemanasan melepasnya. Bukan sepekan atau dua pekan persiapan itu dibuatnya, tapi sudah sejak dua tahun lalu.

Ya, Liliyana sudah bilang untuk pensiun tepat setelah Olimpiade 2016 Rio de Janeiro. Tapi, niatan itu urung.


Pelatih pelatnas bulutangkis di nomor ganda campuran, Richard Mainaky, mengikatnya. Begitu pula pasangan Liliyana, Tontowi Ahmad, belum rela untuk berpisah dengan Butet.

Mereka optimistis Butet belum benar-benar habis. Belum benar-benar bosan. Belum benar-benar ingin pensiun.

Faktanya, Liliyana, bersama Owi, masih menjadi juara tiga turnamen super series usai Olimpiade Rio; Malaysia, China, dan Hong Kong Terbuka. Juga menjadi jawraa di Indonesia Terbuka dan Prancis Terbuka tahun berikutnya plus juara dunia. Kedua bersama Tontowi, dan keempat untuk Buutet, sapaan karib Liliyana. Menjadi rekor bagi Liliyana sebagai pebulutangkis putri yang paling sering menjadi juara dunia.

Makanya, kini, setelah dua tahun sejak emas Olimpiade diraih Indonesia sulit melepas Butet. Tidak mudah untuk tak memiliki Butet.

Dilepas di Sebuah Final di Istora

Tapi, Minggu (27/1/2019) tepat pukul 12.00 WIB, di Istora, Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Butet akan mengucapkan salam perpisahan. Belum benar-benar meletakkan raket, dia akan mementaskan aksinya di final Indonesia Masters 2019.

Itu sebuah turnamen BWF Tour 500 dengan hadiah total USD 350 ribu atau setara dengan Rp 5 miliar. Turnamen itu masih kalah dari Indonesia Terbuka yang biasanya digeber bulan Juni dan berlabel premier of premier, turnamen bulutangkis perorangan yang cuma kalah gengsi dari Olimpiade dan Kejuaraan Dunia.

Tapi, pemilihan turnamen itu bukan semata-mata melihat level turnamennya. Adalah venue yang menjadi alasan utama.


Liliyana ingin menandai penutupan kariernya di venue bulutangkis yang paling berisik sejagat. Di tempat yang pernah membuatnya keki karena sulit menjadi juara saat berpasangan dengan pemain yang lebih muda, Tontowi.

Padahal, bukan cuma Indonesia Terbuka yang digeber di Istora. Tapi, Tontowi/Liliyana juga nirgelar saat kejuaraan Dunia singgah di Istora pada 2015. Waktu itu, mereka menyerah di tangan Zhang Nan/Zhao Yunlei (China) di semifinal. Zhang Nan/Yunlei kemudian menjadi juara dunia di akhir babak,

Tontowi/Lilliyana berhasil memecah mitos Istora angker buat mereka itu setelah sewindu tahun berpasangan. Gelar juara itu digapai usai mengalahkan wakil Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying 21-17, 21-8 dalam durasi 38 menit pada laga final, 8 Juli 2018.

[Gambas:Instagram]

"Dengan kemenangan ini, maka tak ada lagi anggapan bahwa Istora angker bagi Tontowi dan Liliyana," kata Liliyana usai meraih gelar juara Indonesia Terbuka 2018.

Tapi, bukan berarti mereka tidak pernah juara Indonesia Terbuka lho. Gelar juara Indonesia Open 2018 itu menjadi keberhasilan back to back Tontowi/Liliyana.

Ya, mereka pemilik juara Indonesia Terbuka 2017. Tapi, mahkota didapatkan saat ajang itu dihelat di Jakarta Convention Center (JCC), yang berjarak sekitar sekitar 1 kilometer dari Istora. Waktu itu, Indonesia Terbuka harus 'mengungsi' ke JCC karena Istora sedang direnovasi.

Gelar itu juga berjarak 12 tahun sejak dia melakukan selebrasi juara bersama Nova Widianto di Istora, pada Indonesia Terbuka pada 2005. Waktu itu, Liliyana masih berusia 20 tahun.

Bukan cuma mengakhiri paceklik juara di Istora bersama Owi dan mencatatkan rekor di Kejuaraan Dunia, Liliyana mengoleksi 23 gelar juara dari 42 final BWF Super Series di nomor ganda campuran dan ganda putri (bersama Nova, Owi, dan Vita Marissa), 10 titel grand prix dan grand prix gold dari 14 final (bersama Nova, Owi, dan Devin Lahardi, dan Vita). Plus lima gelar juara IBF (federasi bulutangkis dunia sebelum bernama BWF) World Grand Prix bersama Nova,

Satu medali emas dan satu perak Olimpiade, satu perak dan satu perunggu Asian Games, satu emas dan satu perak World Cup, dua emas, dua perak, dan dua perunggu Kejuaraan Asia,
lima emas, tiga perak, dan tiga perunggu SEA Games.

LIliyana memang sudah cemerlang sejak usia junior. Dia mengoleksi tiga perunggu dari Kejuaraan Dunia junior dan satu meddali emas Kejuaraan Asia junior.

Raihan di beregu juga tidak kosong. Liliyana merasakan satu kali menjadi runner-up dan sekali di peringkat ketiga Piala Uber, satu kali peringkat kedua dan tiga kali di urutan ketiga Piala Sudirman.

Dengan deretan gelar juara itu, Liliyana akan memulai hidup baru. Dia akan melepaskan predikat atlet dan memilih menekuni usaha.

Akan banyak yang kehilangan. Tapi juga tidak sedikit yang bisa dikenang.

Selamat memasuki babak baru, Tet!



Tonton video 'Liliyana Natsir Gantung Raket, Netizen Ucapkan #ThankYouButet':


[Gambas:Video 20detik]

(fem/rin)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed