detiksport
Follow detikSport Linkedin share
Kamis, 07 Feb 2019 11:45 WIB

Waswas Ganda Campuran ke Olimpiade karena Tak Punya Kartu As

Femi Diah - detikSport
Ganda campuran kehilangan kartu as setelah Liliyana Natsir pensiun. (Rifkianto Nugroho/detikSport) Ganda campuran kehilangan kartu as setelah Liliyana Natsir pensiun. (Rifkianto Nugroho/detikSport)
Jakarta - Ganda campuran Indonesia sedang genting setelah kehilangan Debby Susanto dan Liliyana Natsir. Apalagi, dipepet kualifikasi Olimpiade 2020 Tokyo.

Debby dan Liliyana pensiun secara bersamaan. Mereka memilih untuk pamitan di Indonesia Masters 2019 pada 27 Januari.

Apes bagi Tontowi Ahmad, Liliyana membiarkan dia 'jomblo' setelah sewindu bersama-sama. Dia masih coba-coba pasangan.

Padahal, ada waktu sekitar empat bulan sejak Asian Games 2018 di Jakarta, sebagai ajang bayangan perpisahan Liliyana, untuk mencari pasangan bagi Tontowi. Situasi itu berbeda 180 derajat dengan 'tangan besi' pelatih pelatnas Cipayung ganda campuran, Richard Mainaky, saat menceraikan Liliyana dengan Nova Widianto pada 2010.


Menjelang Asian Games 2010 Guangzhou, mereka justru dipisah. Penampilan Nova bukannya sudah buruk banget. Tapi, waktu itu, Nova, yang kini menjadi asisten pelatih Richard di PBSI, dinilai sulit mengimbangi kecepatan pemain-pemain muda.

Nova sempat emosi dengan keputusan itu. Tapi, Richard melihat ada kepentingan yang lebih besar; menjawab mimpi medali emas ganda campuran di Olimpiade. Tidak secepat perkiraan, namun ambisi itu tercapai pada Olimpiade 2016 Rio de Janeiro.

Tanpa Liliyana, ganda campuran seperti kehilangan kartu as, kartu paling digdaya dalam permainan kartu remi. Padahal, sejak 2004, Liliyana--bersama Nova dan berlanjut dengan Tontowi--adalah penjaga gengsi Indonesia. Bahkan, ketika nomor lain naik turun, ganda campuran konsisten naik podium tertinggi di ajang bergengsi.

Rencana untuk coba-coba sempat dirancang, Tontowi dipasangkan dengan Winny Oktavina Kandow pada dua turnamen di 2018. Tapi, rencana itu masih ada di atas kertas.

Pertama, visa Tontowi tak keluar saat akan bermain di Taiwan Terbuka. Dia pun tak bisa terbang ke Taiwan.

Di turnamen berikutnya, Hong Kong, Tontowi juga kembali batal berduet dengan Winny. Dia tetap tampil, tapi bersama Della Destiana Haris.

Cuma itu? Tidak. Tontowi malah kemudian dipasangkan dengan Debby Susanto, yang jelas-jelas berniat pensiun di awal tahun 2019, saat tampil di Malaysia Masters. Kemudian balik lagi berpasangan dengan Liliyana di ajang pamitan, Indonesia Masters.


Praveen, pasangan Debby, sedikit lebih beruntung. Sebelum benar-benar ditinggal Debby, pasangannya saat menjadi juara All England 2016 dan emas SEA Games 2015 di Singapura, Praveen sudah menjalani penjajakan dengan Melati Daeva Oktavianti.

Duet Praveen dan Melati memang belum menghasilkan medali apapun, namun cukup menjanjikan. Kini, mereka berada di peringkat ke-16 dunia. Prestasi terbaik dicatatkan Praveen/Melati di India Terbuka 2018 sebagai runner-up.

Dengan peringkat itu, Praveen/Melati dijamin bisa mengikuti kualifikasi Olimpiade 2020 Tokyo yang dibuka mulai April tahun ini.

Praveen, yang memiliki smes maut dan bisa dengan mudah mematikan pemain-pemain putri lawan, diyakini bakal menjadi pasangan berbahaya dengan Melati. Untuk Melati tinggal dimatangkan defence-nya agar setangguh tembok Huang Yaqiong, ganda campuran nomor satu dunia bersama Zheng Siwei saat ini.

Sementara itu, Tontowi harus bekerja ekstra keras. Dia harus 'menggendong' (istilah yang kerap digunakan di Cipayung untuk pemain senior kepada pasangan yang lebih muda) Winny.

"Saya bilang, Tontowi harus siap mulai dari nol lagi. Dia dan Winny harus bisa tembus turnamen BWF Super 500 untuk bisa ikut kualifikasi Olimpiade 2020," kata Richard kepada detikSport.

Enam turnamen sudah disiapkan Richard untuk Tontowi/Winny sebelum kickoff kualifikasi Olimpiade 2020 Tokyo. Mereka akan menjalani debut di Barcelona pada ajang Spanyol Masters 2019 pada 19-24 Februari kemudian bablas ke Jerman Terbuka mulai 2 Februari hingga 3 Maret.


"Saya harus genjot Towi dan Winny. Mereka harus mengejar peringkat pada enam pertandingan. Tidak ada waktu untuk coba-coba lagi, karena olimpiade sudah dekat, tidak bisa," ujar Richard.

Selain dua pasangan itu, ganda campuran memiliki satu pasangan lain, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja. Merekalah yang menjadi ganda campuran terbaik Tanah Air saat ini.

Soal tenaga, Hafiz masih kalah dari Praveen. Tapi, dia tipikal pemain yang mau bekerja keras. Semestinya Hafiz menyadari, kini dia tak hanya bertugas menjaga Gloria, tapi juga garda terdepan ganda campuran Indonesia.

Optimisme digaungkan Imelda Wiguna, mantan pemain nasional ganda campuran yang memiliki prestasi cemerlang bersama Christian Hadinata. Dia percaya diri pamor ganda campuran Indonesia akan terjaga. Asalkan, PBSI tak membuang-buang waktu.

Petinggi di PB Jaya Raya Jakarta itu meminta agar PBSI berfokus mengembangkan tiga pasangan terbaik yang dimiliki.

"Rada berat memang, karena dua sekaligus dan andalan yang pergi. Mau enggak mau, Hafiz dan Gloria dimatangkan. Kuncinya putri harus mumpuni dalam mengatur bola dan memiliki defence yang kuat agar pemain putra lebih tenang," ujar Imelda.

"Begitu pula, Praveen dan Melati. Tontowi, dengan pengalamannya dan belum tua-tua amat, dia masih layak dipercaya ke Olimpiade. Waktunya tidak banyak untuk menuju kualifikasi, PBSI tidak boleh coba-coba lagi," ujar dia.

Christian Hadinata berharap PBSI bisa segera memoles minimal satu di antara tiga ganda campuran itu untuk menjadi permata. Menjadi kartu as.

"Ini masalahnya. Sejauh ini kita belum punya kartu as. Karena, mereka masih labil banget, kadang bagus, kadang tidak. Harus segera dicari," ujar Christian.



Waswas Ganda Campuran ke Olimpiade karena Tak Punya Kartu As
(fem/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed