detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Selasa, 28 Mei 2019 11:55 WIB

Indonesia Gagal Pulangkan Piala Sudirman Lagi, Apa yang Salah?

Mercy Raya - detikSport
Gregoria Mariska Tunjung diminta membenahi mental dan fisik. (Wahyu Putro A/ANTARA Foto) Gregoria Mariska Tunjung diminta membenahi mental dan fisik. (Wahyu Putro A/ANTARA Foto)
Jakarta - Mantan pebulutangkis nasional, Retno Koestijah, meminta agar PP PBSI membuat terobosan untuk mendongkrak mental dan fisik bermain atlet setelah kegagalan di Piala Sudirman. Apa maksudnya?

Indonesia menjadi semifinalis Piala Sudirman 2019 di Nanning, China. Skuat Merah Putih dikalahkan Jepang dengan skor telak 1-3.

Itu bukan satu-satunya kekalahan. Di fase grup, Kevin Sanjaya Sukamuljo dkk kalah 2-3 dari Denmark.

Torehan itu membuat Indonesia kembali gagal membawa pulang trofi Piala Sudirman ke Tanah Air. Satu-satunya gelar juara didapatkan pada perhelatan pertama di Piala Sudirman 1989.


Retno, yang menjadi bagian dari tim Indonesia pada Piala Sudirman 1989, dengan berduet bersama Minarni di ganda putri, menilai ada yang salah dengan kegagalan beruntun itu. PBSI sebagai pencetus kejuaraan itu justru tak serius menyambutnya tiap tahun.

"Ya, tentu, kita inginnya maju. Apalagi, itu kebanggaan. Saya yang pernah (ikut) juara kalau melihat itu nelongso. Mestinya, kita sanggup," kata Retno kepada detikSport, Selasa (28/5/2019).

Pemain era 1960-an itu menekankan pada pembinaan di nomor tunggal. Utamanya, pada daya juang pemain.

"Jepang itu ulet, berani capek, dan lari. Kalau kita masih lenggak lenggok. Kalau mereka berani nekat. Itu yang kurang. Kalau kita berani nekat dan ulet pasti bisa mengimbangi. Langkahnya enggak peduli salah benar yang penting ambil bolanya," dia menjelaskan.

"Ya hampir terus percuma toh. Makanya, kalau kita melihat perjalanan kita kayak apa, diperbaiki dengan cepat. Ditambah lagi larinya. Pemain kita pukulannya bagus, tapi kurang ulet? Beda kalau ulet, teknis bagus, fisik bagus, itu jempol lah," katanya.

"Memang tunggal putri paling lemah. Ya kita harus perbaiki banyak kelemahan dan mengakui keunggulan lawan. Jangan sampai kita membuat alasan. Kalau banyak alasan nanti kita malah tak mau memperbaiki. Itu yang penting. Jangan cari kambing hitam juga," peraih medali emas Asian Games 1962 itu mengimbau.

(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com