detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Rabu, 29 Mei 2019 20:42 WIB

Anthony Ginting Sesali Penampilannya di Piala Sudirman

Mercy Raya - detikSport
Anthony Sinisuka Ginting kecewa dengan penampilannya di Piala Sudirman 2019. (Wahyu Putro A / Antara) Anthony Sinisuka Ginting kecewa dengan penampilannya di Piala Sudirman 2019. (Wahyu Putro A / Antara)
Jakarta - Tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting menyesali hasil di Piala Sudirman 2019. Dia juga kecewa tak bisa menyumbangkan poin saat tampil dalam laga hidup mati melawan Jepang.

Sektor tunggal putra menjadi sorotan saat Indonesia kalah di semifinal Piala Sudirman. Dalam empat pertandingan yang dijalani Indonesia sejak fase grup, tunggal putra hanya mencatatkan satu kemenangan. Yakni, lewat kemenangan Anthony atas tunggal Inggris, Toby Penty.

"Kalah ya pasti menyesal apalagi saat lawan Jepang. Kalau lawan Denmark kan kita sudah juara grup. Tapi lawan Jepang di semifinal, yang sangat menentukan," kata Anthony ketika ditemui di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (29/5/2019).


Lebih jauh, pemain rangking tujuh dunia ini juga terpukul karena sempat mengimbangi skor 18-18 di gim kedua, tapi kandas karena error di poin kritis.

"Memang lawan Momota secara catatan pertemuan dia lebih unggul tapi tinggal sedikit lagi untuk bisa mengimbangi. Tidak seperti melawan Viktor Axelsen (Denmark). Tapi paling menyesal saat lawan Momota karena tinggal beberapa poin lagi bisa rubber (tapi tidak bisa)," dia menjelaskan.

"Karena mikirnya minimal bisa rubber dulu. Tapi pas skor 18-18, saya kasih ke belakang dia balas net, dan masuk. Padahal, itu poin-poin kritis dan secara enggak langsung membuat dia tambah percaya diri," kata dia.

Pemain berusia 23 tahun ini pun mengatakan telah melakukan evaluasi, terutama soal cara main.

"Evaluasi saya sih lebih ke cara main sih. Kayak kemarin waktu lawan Viktor. Saya kan sudah nonton video pertemuan sebelumnya saat di China Open tahun lalu. Biasanya miss-nya di sini, tapi kemarin enggak ada. Enggak ada main di depan net, lebih menarik ke belakang. Jadi saya sulit colong poin. Dari fostur tubuh dia juga tinggi, jadi saat saya pengembalian dia sudah potong bolanya," dia menjelaskan.

"Waktu lawan Momota juga sering ketemu dan setiap pertemuan selalu ramai. Kemarin sebenarnya ada faktor keberuntungan ke lawan karena pada saat gim kedua, skor 18-18, ada bola dia yang bergulir ke net jadi secara enggak langsung mengubah keadaan," ujar dia.

Selain itu, setiap pulang dari pertandingan juga ada variasi latihan yang disiapkan pelatih sehingga tidak monoton.

"Pelatih juga sudah memikirkan apa yang harus ditambah. Misalnya latihan stroke, dia memberikan kesempatan kepada kami untuk berpikir mana yang menurut kami enak, jadi tidak semuanya ditanggung pelatih," ujar dia.

(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed