detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Jumat, 31 Mei 2019 23:31 WIB

Pelatih: Tunggal Putra Masih Suka Ulangi Kesalahan, tapi Berkurang

Mercy Raya - detikSport
Anthony Ginting dan Jonatan Christie banyak lakukan kesalahan (Wahyu Putro A / Antara) Anthony Ginting dan Jonatan Christie banyak lakukan kesalahan (Wahyu Putro A / Antara)
Jakarta - Pelatih tunggal putra Hendry Saputra Ho mengakui penampilan anak buahnya di Piala Sudirman tidak maksimal. Jonatan Christie dkk masih mengulangi kesalahan, tapi intensitasnya berkurang.

Piala Sudirman udah beres sejak 26 Mei lalu. Indonesia terhenti di semifinal usai kalah telak dari Jepang dengan skor 1-3. Dari kekalahan itu, sektor tunggal menjadi yang paling disoroti.

Dari empat laga, sektor tunggal hanya menyumbang satu poin saat menghadapi Inggris Toby Penty. Sementara di laga hidup dan mati, tunggal putra kehilangan poin melalui Anthony Sinisuka Ginting sebagai eksekutor. Indonesia pun terhenti di peringkat tiga kejuaran beregu campuran.

"Evaluasinya kalau saya lihat, tingkat kesalahan atau mati sendirinya masih terulang. Sudah ada pengurangan, yang tadi contoh mati 12 kali dalam 1 game, ini bisa cuma 10 kali. Tapi itu masih rugi karena musuhnya mati sendirinya lebih sedikit," ujar Hendry di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur.




"Seperti Anthony mati sendiri 10-11 poin, tapi lawannya cuma 6 kali. Nah, ini yang kami mau coba targetkan kalau bisa kesalahannya di bawah 10," sambungnya.

Tak hanya soal mati sendiri, tunggal putra juga kerap babak belur dan inkonsisten ketika menghadapi pemain unggulan. Tapi Hendry berdalih dengan melemparkan kepada si atlet.

"Enggak, semua itu tergantung pemain sendiri bagaimana menyikapinya. Tapi kalau melihat dari pengalaman main, saya tak melihat itunya. Contoh Anthony versus Kento Momota, performanya bagus kok, dan di empat pertandingan fight terus. Tapi di last minute yang kalah, karena kesalahan sendiri itu. Tapi dari segi mental ketemu pemain-pemain unggulan sudah ada improve banyak," dia menjelaskan.

"Kalau kami mengarahkan saja. Artinya, kami ingatkan kalau dia melakukan kesalahan, kami beri motivasi kalau mereka terlihat sudah putus asa, agar tetap fokus memperhatikan, semangat, mengarahkan cara mainnya," dia menambahkan.




Hendry juga menyebut tak akan ada metode baru karena dia menilai secara teknik atletnya tak kalah jauh. Mereka hanya kurang fokus.

"Kalau lihat main lawan, kita tak perlu metode baru. Momota itu main cuma save saja. Kalau yang mengerti menonton, dia tahu bagusnya Momota cuma di ulet dan save. Jadi harus berpikir dilatih untuk lebih fokus," imbuhnya.

"Juga soal peningkatan fisik itu kan ada levelnya. Seperti dalam kasus pertandingan kemarin tak saya lihat di sana, bukan soal fisik, tapi teknik dan cara main. Kalau mental sudah oke, kecuali kalahnya jauh, nervous dan kacaunya kelihatan," demikian dia.


(mcy/mrp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com