detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Jumat, 09 Agu 2019 13:25 WIB

Grafik Menurun, Fajar/Rian Diminta Batasi Penggunaan Media Sosial

Mercy Raya - detikSport
Foto: Oli SCARFF / AFP Foto: Oli SCARFF / AFP
Jakarta - Pelatih pelatnas ganda putra, Herry Iman Pierngadi, menerapkan aturan keras bagi Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Mereka diminta membatasi penggunaan media sosial.

Herry mencatat sejumlah persoalan Fajar/Rian menyusul penampilan inkonsisten mereka dalam empat bulan terakhir. Di Australia Open, mereka terhenti di babak pertama, sedangkan di Indonesia Open mereka tak mampu menyamai perolehan tahun lalu. Alih-alih mencapai semifinal mereka terhenti di perempatfinal. Fajar/Rian juga tersingkir di babak kedua Japan Open dan Thailand Open.

Herry mengemukakan kekecewaannya. Dia menilai Fajar/Rian belum sanggup menanggung tugas atau beban sebagai penerus Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon.


"Saya sudah tanya, ngobrol, kepada mereka. Jadi, mungkin mereka terlalu diharapkan cepat karena mereka generasi berikutnya sehingga mereka jadi terbeban. Sebenarnya, mereka harus siap tapi kembali lagi ada pemain. Ada pemain yang cepat siap bisa terima, ada pemain yang tidak tahan. Nah, pola pikir itu yang harus diubah," kata Herry ketika ditemui di pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (9/8/2019).

Pelatih yang dijuluki fans bulutangkis Coach Naga Api itu mengatakan sudah menyiapkan beberapa solusi untuk mengubah pola pikir atletnya tersebut. Selain berbicara dengan psikolog PBSI, Fajar/Rian juga diminta berkomunikasi dengan seniornya.

"Saya juga sudah bilang ke mereka, coba tanya pemain yang lebih senior seperti Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, Kevin/Marcus. Bagaimana sih? Sebenarnya, tekanan lebih tinggi kepada Ahsan/Hendra dan Kevin/Marcus karena mereka jauh lebih dituntut, tapi kok mereka bisa atasi, kontrol. Mereka harus tanya karena karakter pemain tak sama, sebab cara pikir mereka harus diubah," Herry menjelaskan.

"Saya juga bilang, kalian tidak perlu dulu main media sosial. Tutup saja. Jangan main Instagram dan Facebook, lebih baik Whatsapp bapak, ibu, atau pacar kalian. Coba jangan main medsos karena apa? Kepikiran. Kan ada pemain yang cepat melupakan, tapi ada juga yang kepikiran. Nah, ini tipe yang kepikiran kali," ujar dia.

"Saya bilang, ini memang susah tapi coba. Memang butuh waktu. Contoh seperti saya, kami ditargetin kemudian kalah, Facebook enggak buka, kalau menang buka boleh buat penghibur. Kalau kalah sudah tak usah dibuka dan tak usah baca koran. Itu salah satu cara mengindahkan itu. Mereka harus bisa. Coba lihat Ahsan/Hendra waktu mereka peringkat satu, tertekannya seperti apa, tapi mereka bisa kontrol itu,"

"Buktinya saat di All England 2019, walau sudah menang tapi mereka bisa atasi. Ya, balik lagi ke pemain. Pelatih kasih solusi saja yang menjalani tetap mereka," kata Herry.

(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
NEWS FEED