detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Rabu, 16 Okt 2019 12:25 WIB

Setelah Kasus Pulang Malam Praveen dkk, PBSI Pasang CCTV

Mercy Raya - detikSport
Susy Susanti perketat pengawasan di PBSI. (Agung Pambudhy/detikSport) Susy Susanti perketat pengawasan di PBSI. (Agung Pambudhy/detikSport)
Jakarta - Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) mengakui kecolongan setelah pebulutangkis ganda campuran pulang larut malam. Mereka pun memperketat pengawasan dengan memasang alat perekam (CCTV).

Pemain-pemain yang meninggalkan pelatnas larut malam itu dinilai melanggar disiplin. Mereka pun diganjar surat peringatan 2 oleh Richard Mainaky.

PP PBSI pun memperketat pengawasan. Mereka akan memasang beberapa CCTV untuk memantau aktivitas para pebulutangkis pelatnas PBSI.


"Itu kan berarti ada permainan, kami akan evaluasi siapa yang bermain. Kalau ada oknum dari PBSI akan melakukan ketegasan juga. Makanya ada CCTV. Kemarin sih sudah ingin dipasang dan diperbanyak di bagian orang keluar masuk," kata Kepala bidang Pembinaan Prestasi PBSI, Susy Susanti, di bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Selasa (15/10/2019) malam.

Susy menjelaskan aturan PBSI sejatinya sudah jelas terkait mekanisme keluar masuk atlet dari Pelatnas PBSI.

"Itu harus izin ke pelatih, jika pelatih tak ada, kemudian ibu asrama. Dari surat itu harus ditandatangani, setelah itu baru atlet bisa keluar," ujar dia.

"Kalau tidak ada ya tidak boleh. Nah, kalau sekarang ini tidak tahu akal-akalan siapa? Ya orang kalau mau bisa memalsukan. Ini kembali ke pribadinya, yang usia belasan, junior saja mengerti aturan," dia menambahkan.

"Kalau jam pulang malam paling maksimal 21.00 sampai 22.00 WIB masih bisa asal diinformasikan ke pelatih. Misalnya, saya pulang telat karena macet atau ada hal lain. Sebab, kami ada pertanggungjawaban juga kepada orang tua," Susy menambahkan.

Susy menilai hal ini penting dilakukan apalagi persiapan menuju Olimpiade Tokyo 2020 semakin dekat. Para atlet diminta untuk menunjukkan komitmen dan keseriusannya.

"Kami akan panggil dan hal seperti ini sudah pernah terjadi jug. Kami harapkan karena ini akan Olimpiade jadi kedisiplinan dan juga profesionalisme seorang atlet, khususnya elit dunia, betul-betul harus dijaga. Sebab, dia bukan bawa nama sendiri tapi nama Indonesia. Sekarang dengan sosial media yang luar biasa sebetulnya dia rugi juga. Nama dia jelek, prestasi jelek, sebetulnya merugikan dan mematikan karier dia juga," kata peraih medali emas Olimpiade 1992 Barcelona ini.


Setelah Kasus Pulang Malam Praveen dkk, PBSI Pasang CCTV


Simak Video "Soal Pencurian Umur, Atlet Bisa Kehilangan Masa Emasnya"
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com