detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Kamis, 21 Jan 2021 15:51 WIB

Kata Pelatih Soal Kekalahan Dini Praveen/Melati di Thailand Open

Mercy Raya - detikSport
Lolos ke perempatfinal Indonesia Masters 2020. Kata Pelatih Soal Kekalahan Dini Praveen/Melati di Thailand Open (Grandyos Zafna/detikSport)
Jakarta -

Pelatih ganda campuran Nova Widianto mengevaluasi penampilan dua pasang pemainnya yang kandas di babak-babak awal. Terutama pada Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti.

Praveen/Melati secara mengejutkan tersingkir di babak pertama Toyota Thailand Open. Runner up Yonex Thailand Open itu gagal melaju lebih jauh usai dikalahkan pasangan Prancis, Thom Gicquel/Delphine Delrue, dengan skor 14-21, 21-9, 21-13.

Nova menilai hasil Praveen/Melati di dua turnamen belumlah maksimal. Meskipun satu di antaranya menembus final.

"Hasil Jordan/Meli tidak maksimal di dua pertandingan ini. Kendala permainan masih sama, dan mereka banyak membuang poin gampang," kata Nova dalam rilis PBSI.

Lebih jauh, Nova menegaskan pengamatannya dari dua turnamen BWF World Tour Super 1000. Praveen/Melati memiliki keinginan menang yang jauh berbeda ketika tampil di All England tahun lalu.

"Pada dua pertandingan ini, saya lihat gregetnya jauh, tidak seperti waktu All England. Dalam keadaan tertekan, mereka jadi gampang menyerah. Dari segi permainan, musuh sudah pasti mempelajari keunggulan dari Praveen/Melati dan mereka kurang siap dengan itu," Nova menjelaskan.

"Kita tidak masalah hasil, asal mainnya sudah maksimal. Tapi yang kelihatan dari komunikasi dan gregetnya kurang."

Sementara itu, menyoal hasil Adnan Maulana/Mychelle Crhystine Bandaso, Nova mengatakan, kekalahan mereka menjadi pekerjaan rumah cukup besar untuk ganda campuran.

Adnan/Mychelle mengalami dua kali kekalahan dari pasangan Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, dalam dua turnamen Thailand Open dalam dua pekan terakhir. Pertemuan pertama mereka kalah 20-22, 18-21, setelah itu takluk dengan angka 18-21, 15-21. Sementara pada

"Target Adnan/Michelle itu delapan besar. Jadi mereka harus tembus mengalahkan pemain unggulan untuk melaju ke delapan besar dan ternyata belum berhasil. Sehingga pada dua turnamen ini targetnya belum tercapai. Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diperbaiki," jelas Nova.

Lebih jauh Nova menegaskan bahwa sembilan bulan vakum karena pandemi COVID-19 tak juga menjadi alasan kekalahan para pemain. Inilah yang menjadi tugas untuk para pelatih untuk membenahi.

"Lama tidak bertanding dan karantina di sini tidak bisa menjadi alasan, karena semua pemain juga mengalami. Evaluasi sementara, semua yang sudah kalah selama dua turnamen ini hasilnya mengecewakan. Tapi ini tetap menjadi tanggung jawab kita sebagai pelatih," tegas Nova.

(mcy/aff)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com