detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Kamis, 25 Mar 2021 14:10 WIB

Legenda Bulutangkis Icuk Sugiarto Bahas Insiden All England 2021

Mercy Raya - detikSport
Mantan Ketua Pengprov PBSI DKI Jakarta, Icuk Sugiarto mengaku kecewa dengan keputusan Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) yang secara sepihak memberhentikan jabatannya sebagai pengurus bulutangkis di Jakarta. Icuk menilai keputusan itu sarat unsur politis.
Mantan Ketua Pengprov PBSI DKI Jakarta, Icuk Sugiarto menjelaskan terkait pemakzulan oleh PP PBSI, di Jakarta, Rabu (18/03/2015). Icuk Sugiarto (Rengga Sancaya/detikSport)
Jakarta -

Legenda hidup bulutangkis Icuk Sugiarto ikut mengomentari insiden tim bulutangkis di All England 2021. Menurutnya, persiapan tim Indonesia harus lebih baik lagi ke depannya.

Tim bulutangkis Indonesia sebelumnya tiba di tanah air pada Senin (22/3/2021). Mereka pulang tanpa membawa gelar usai dipaksa mundur oleh BWF. Mereka tidak diperbolehkan bertanding dan harus menjalani karantina di hotel tim.

Banner All England 2021

Penyebabnya, Jonatan Christie dkk berada di pesawat yang sama dengan penumpang terkonfirmasi COVID-19. Peristiwa itu terjadi saat penerbangan dari Istanbul ke Birmingham. Mereka mendarat pada Sabtu (13/3) siang dan dalam keadaan sehat.

Akan tetapi, peristiwa yang terjadi di All England membuat banyak pihak kecewa, tak hanya atlet tapi juga masyarakat Indonesia.

Sebab, selain diminta mundur, mereka juga mendapat perlakukan diskriminatif dari panitia setelah dilarang naik bus dan menggunakan lift hotel.

Icuk Sugiarto, yang juga Kabid Kesejahteraan Pelaku Olahraga KONI Pusat, berpendapat tim Indonesia harus melakukan persiapan yang lebih baik lagi apalagi di masa pandemi COVID-19 ini.

"Pendapat saya tentang kasus ini, tidak ada upaya untuk menjegal Indonesia. Penyelenggara rugi jika pesertanya berkurang, namun penyelenggara tidak dapat berbuat atas keputusan National Health Service (NHS)," kata kata Icuk dalam rilis KONI Pusat yang diterima detikSport.

"Jadi kita perlu meninjau lebih rinci peraturan di negara yang akan kita datangi," ujar juara dunia 1983 Copenhagen itu.

Bukan tanpa sebab ia mengatakan demikian. Di zamannya ketika masih menjadi atlet bulutangkis, tim tiba di lokasi pertandingan lebih awal untuk penyesuaian.

Maka, ketika saat ini ada pandemi COVID-19 sudah seharusnya waktu adaptasi bisa lebih panjang. "Karena ada uji coba lapangan dan sebagainya juga," ujarnya.

Meski begitu, pemain yang ikut membawa Indonesia juara Thomas Cup 1984 Kuala Lumpur ini juga menyadari bahwa berkompetisi di luar negeri dengan ketentuan isolasi mandiri maka berdampak pada biaya yang lebih besar.

"Ke depan semua harus menjadikan kasus ini sebagai pembelajaran, baik itu tim Indonesia, BWF, maupun panitia penyelenggara sehingga ke depan tidak ada yang dirugikan," dia menegaskan.

Simak juga Video: Hikmah yang Dipetik Indonesia dari Insiden All England

[Gambas:Video 20detik]



(mcy/aff)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com