Nostalgia Liliyana Natsir, Suka Duka Perjuangan Raih Emas Olimpiade

Mercy Raya - Sport
Selasa, 20 Jul 2021 13:55 WIB
2016 Rio Olympics - Badminton - Mixed Doubles - Victory Ceremony - Riocentro - Pavilion 4 - Rio de Janeiro, Brazil - 17/08/2016. Gold medallists Tontowi Ahmad (INA) of Indonesia and Liliyana Natsir (INA) of Indonesia pose as if biting their medals.     REUTERS/Mike Blake FOR EDITORIAL USE ONLY. NOT FOR SALE FOR MARKETING OR ADVERTISING CAMPAIGNS.
Liliyana Natsir saat meraih emas Olimpiade bersama Tontowi Ahmad. Foto: REUTERS/Mike Blake
Jakarta -

Olimpiade Rio 2016 menjadi salah momen membanggakan buat Indonesia dan Liliyana Natsir. Bersama Tontowi Ahmad, ia berhasil menyambung kembali tradisi emas yang sempat terputus di London 2012.

Kian istimewa karena emas diraih bertepatan dengan tanggal kemerdekaan Republik Indonesia. Tontowi/Liliyana mempersembahkan medali emas Olimpiade 2016 untuk Merah Putih setelah menang 21-14, 21-12 atas pasangan Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying.

Bagi Liliyana, emas tersebut merupakan pencapaian terbaik sepanjang kariernya sebagai atlet bulutangkis. Sekalipun, pada 2008 ia juga sukses meraih medali perak bersama Nova Widianto.

Dalam jumpa pers virtual di sela-sela peluncuran logo tim Indonesia untuk Olimpiade Tokyo 2020, Liliyana Natsir menceritakan suka duka dan rahasia keberhasilannya meraih prestasi tersebut. Ia menyebut latihan yang tak pernah putus dan jangan buang kesempatan.

"Sedikit cerita, kami sebagai atlet pasti dari latihan, persiapan, sudah cukup melelahkan ya. Kami latihan pagi, siang, sampai malam, dan itu sudah kayak bagian dari hidup kita-lah," Liliyana membuka cerita.

"Seperti saya di bulutangkis. Melek lihat lapangan, latihan sore, latihan lagi. Dukanya waktu dengan keluarga juga tersita, tak bisa kumpul-kumpul, yang katanya long weekend atau tanggal merah, itu tidak ada, bagi kami semua tanggal hitam semua. Kami pakai itu untuk latihan, latihan, dan latihan."

2016 Rio Olympics - Badminton - Mixed Doubles Semifinals - Riocentro - Pavilion 4 - Rio de Janeiro, Brazil - 15/08/2016. Tontowi Ahmad (INA) of Indonesia and Liliyana Natsir (INA) of Indonesia celebrate winning their match against Zhang Nan (CHN) of China and Zhao Yunlei (CHN) of China.     REUTERS/Marcelo del PozoKegembiraan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Rio 2016. Foto: REUTERS/Marcelo del Pozo

"Sukanya itu pastinya kalau dapat hasil maksimal, apalagi di multievent yang terbesar di dunia seperti Olimpiade ini. Saya mengalami itu di Rio de Janeiro. Jadi rasa capek yang sudah saya jalani bertahun-tahun, mungkin belasan tahun (akhirnya) terbayar dengan emas olimpiade. Jadi begitu pentingnya olimpiade ini," ujarnya.

Lebih jauh, Liliyana menegaskan, saat seorang berhasil maka tidak hanya diri sendiri yang akan bangga melainkan seluruh bangsa turut merasakan suka cita tersebut.

"Karena memang event olimpiade beda ya. Kami pernah ikut kejuaraan dunia, All England kalau di bulutangkis, tapi olimpiade ini yang saya rasakan berbeda, dari effort, persiapannya, dari kami masuk ke atlet village, venue untuk bertanding, beda banget," katanya.

"Bisa dari suasana atau dari kita sendiri yang menggebu-gebu ingin dapat hasil maksimal di Olimpiade. Jadi terbawa suasana, pasti ada beban, stres juga pasti ada. Apalagi sebelum hari H atau hari H itu tak bisa diungkapkan, termasuk paling berat beban hidup waktu tampil di Olimpiade."

Untuk itu, Liliyana Natsir berharap rekan-rekannya yang mendapat kesempatan tampil di Olimpiade bisa memanfaatkan momen tersebut dengan meraih hasil maksimal.

"Saya titip pesan buat teman-teman. Kesempatan itu tak mungkin datang dua kali, mungkin seperti mas Eko (lifter angkat besi) sering ikut (Olimpiade), tapi empat tahun lagi tak tahu ke depan perfoma seperti apa. Jadi tahun ini kesempatan mudah-mudahan bisa meraih emas, meraih prestasi maksimal," dia mengharapkan.

"Doa kami, masyarakat Indonesia, semoga tradisi emas bukan hanya dari bulutangkis, tapi berharapnya seluruh cabang olahraga bisa menyumbangkan medali yang terbaik," imbuhnya.

(mcy/krs)