Ganda Putra Gagal Lagi di Olimpiade, Tugas Pelatih dan Atlet Kian Berat

Mercy Raya - Sport
Jumat, 30 Jul 2021 22:46 WIB
Taiwans Lee Yang, left, and Wang Chi-Lin talk to Indonesias Mohammad Ahsan and Hendra Setiawan after wining their mens doubles badminton semifinal match at the 2020 Summer Olympics, Friday, July 30, 2021, in Tokyo, Japan. (AP Photo/Dita Alangkara)
Aksi Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan di Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: Dita Alangkara/AP)
Jakarta -

Kekalahan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan di Olimpiade Tokyo 2020 membuat tradisi emas ganda putra gagal lagi. Tugas pelatih kian berat.

Hendra/Ahsan sempat menjadi tumpuan Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020. Itu setelah ganda nomor satu dunia, Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon, kandas di perempatfinal.

Namun, Hendra/Ahsan juga ikutan tersingkir dalam persaingan merebut medali emas. Di empat besar, The Daddies dikalahkan ganda Taiwan, Lee Yang/Wang Chi-lin dengan skor 11-21, 10-21 di Musashino Forest Plaza, Tokyo, Jumat (30/7). Hendra/Ahsan selanjutnya tinggal memperebutkan medali perunggu.

Tersingkirnya Hendra/Ahsan membuat tradisi emas ganda putra dari Olimpiade masih gagal dimenangkan lagi. Terakhir, pasangan mendiang Markis Kido/Hendra yang memenangkanya di Olimpiade Beijing 2008.

Christian Hadinata, legenda bulutangkis Indonesia, menilai tekanan bermain di Olimpiade memang berat. Ia mencontohkan kekalahan Kevin/Marcus dari pasangan Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik di perempatfinal, meski ganda Indonesia punya sebenarnya head-to-head yang bagus dari sang lawan.

"Ya, ternyata memang presure tekanan Olimpiade sangat berbeda ya. Mereka mengalami kekalahan di grup, kemudian di babak knock out, lawan yang di atas kertas, seharusnya kalau mainnya normal bisa ambil (kemenangan). Tapi rekor kemenangan 7-0 dipatahkan. Ya, itu lah gambaran presure di Olimpiade," kata Christian kepada detikSport, Jumat (30/7/2021).

"Yang biasa kalah di turnamen-turnamen super series, di olimpiade bisa berbalik. Karena lawannya pasti main lepas, dibandingkan Kevin/Marcus yang sudah pasti diandalkan. Akhirnya, mereka mainnya tidak seperti biasanya, enggak bisa mengatasi presure, keadaan, untuk kelas olimpiade," ujarnya.

Sementara untuk kekalahan Hendra/Ahsan, Christian masih memakluminya. Ia menilai, dengan usia yang tak lagi muda, apa yang dilakukan Hendra/Ahsan sangat maksimal.

"Kalau Hendra/Ahsan semifinal sudah maksimal banget dengan usia segitu. Terlebih, lawan-lawan mereka masih muda, susah lah kalau begitu, karena bukan sama mereka harapannya. Tapi kepada yang lebih muda, Kevin/Marcus yang ranking satu ini."

Juara All England 1972 dan 1973 ini berharap jika Kevin/Marcus berkesempatan tampil kembali di Olimpiade Paris 2024, harus bisa persiapkan lebih matang. Sebab, faktor usia, kondisi yang tidak bisa ditebak, akan membuat tantangan ke depan kian berat.

"Ya, paling secara umum pelatih sama atletnya harus mengatur latihannya seperti apa. Apalagi tahun-tahun ke depan ini, sampai akhir tahun tak menentu, kita enggak tahu. Ada tanggal kejuaraan, tapi pada saat mendekati dibatalin," kata legenda bulutangkis berusia 72 tahun ini.

"Artinya, pelatih dan atlet harus siap strategi khusus, di luar ada pertandingan atau tidak. Terutama di sektor ganda putra, saya menganggap gagal kali ini karena tidak bisa mengembalikan emas. Ini tentu lebih menambah tekanan, dalam arti mengatur programnya lebih sulit."

"Bisa dibayangkan si atlet menunggu tiga tahun seperti apa dan dalam situasi yang tidak bebas, dan jarang pertandingan. Kalau kita bayangkan pulang dapat emas, mungkin enteng-enteng saja mau program apapun. Tapi ini kan gagal, pelatih repot menyusun program lagi, atlet terpukul juga, terutama Kevin/Marcus," kata Christian.

(yna/yna)