Ketum KOI Terima Permintaan Maaf Langsung BWF soal Insiden All England

Mercy Raya - Sport
Selasa, 07 Des 2021 15:17 WIB
Raja Sapta OktoHari
Ketua KOI, Raja Sapta Oktohari, menerima permintaan maaf langsung dai BWF. (Foto: dok.NOC)
Jakarta -

All England 2021 memang sudah digelar sejak Maret lalu. Namun, insiden yang melibatkan tim bulutangkis Indonesia cukup membekas.

Hal itu pun memaksa President Badminton World Federation (BWF) Poul-Erick Hoyer Larsendi kembali menyatakan permohonan maafnya. Kali ini kepada Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari.

Permohonan itu diutarakan legenda bulutangkis itu secara langsung di sela-sela penyelenggaraan BWF World Tour Finals 2021 yang menjadi akhir rangkaian Indonesia Badminton Festival 2021, pada akhir pekan lalu. Momen pertemuan keduanya juga disaksikan Komite Eksekutif Teuku Arlan Perkasa Lukman bertemu dengan Poul-Erick serta Presiden Badminton Asia Anton Subowo dan juga Ketua Harian PBSI Alex Tirta.

"Saya katakan bahwa saya tak punya masalah pribadi. Tapi sebagai representatif Indonesia di bidang olahraga yang juga mewakili warganet, wajar jika saya membela kepentingan atlet. Ia menyampaikan permintaan maaf secara langsung, meski sebelumnya juga sudah diutarakan secara terbuka. Pak Anton (Subowo, President Badminton Asia) juga katakan bahwa kejadian All England menjadi yang pertama bagi BWF meminta maaf karena sebelumnya tidak pernah," kata Okto dalam rilis yang diterima detikSport, Selasa (7/12/2021).

Insiden All England 2021 berawal ketika seluruh pebulutangkis Indonesia dipaksa mundur dari turnamen karena satu pesawat dengan pasien terinfeksi COVID-19, sehingga semua atlet harus menjalani karantina. Kendati itu regulasi resmi pemerintah Inggris, tetapi ada perlakuan berbeda yang diterapkan panitia All England dan BWF.

Hal ini sempat menjadi pertanyaan salah satu atlet ganda putra nomor 1 dunia Marcus Fernaldi Gideon, mengingat tim bulutangkis Indonesia sudah sempat menjalani tes PCR setiba di hotel dan hasilnya dinyatakan negatif. BWF dan panitia All England juga tidak memberlakukan tes ulang kepada atlet Merah Putih, sebagaimana yang terjadi dengan pemain Denmark, India, dan Thailand yang sempat diketahui positif COVID-19.

KOI merasa harus berperan karena diatur dalam Olympic Charter (Piagam Olimpiade). Dalam poin 2.5 tentang misi dan peran NOC (National Olympic Committee) tertulis secara tegas bahwa NOC harus mengambil aksi melawan segala tindakan diskriminasi dan kekerasan di olahraga.

"Tapi yang sudah terjadi kan telah terjadi. Sekarang bagaimana kami, KOI, PBSI, Badminton Asia, dan BWF berkomunikasi ke depannya. Saya katakan, KOI membuka pintu komunikasi dan saya juga tanya what next for Indonesia?" ujar Okto.

"Tanggapan Presiden BWF adalah dia akan selalu memprioritaskan Indonesia. Termasuk, katanya terlihat di Badminton Festival 2021 karena tiga turnamen yang terselenggara di Bali."

Sementara itu, Poul-Erick mengatakan di depan Okto bahwa Indonesia memiliki arti penting bagi dirinya. "Indonesia lebih besar dibanding Anda dan saya. Sebab, Indonesia dan bulutangkis selalu ada di hati saya," Poul-Erick menegaskan.

Simak video 'Kevin/Marcus Kalah, Netizen: Comeback Stronger:

[Gambas:Video 20detik]



(mcy/cas)