Sharapova, yang diposisikan sebagai unggulan kelima, tampil sempurna dalam perjalanannya menuju final. Tak satu set pun hilang dari genggamannya, termasuk saat menghadapi petenis nomor satu dunia, Justine Henin, di perempatfinal.
Jelena Kostanic Tosic adalah korban pertama dia, disusul mantan ratu tenis Lindsay Davenport di babak kedua. Duo Rusia Elena Vesnina dan Elena Dementieva juga takluk oleh kompatriotnya itu, masing-masing di babak ketiga dan empat.
Henin, yang mengalahkan Sharapova di babak final turnamen penutup 2007, WTA Tour Championship di Madrid, ditekuknya pula dengan telak, 6-4 6-0. Selanjutnya unggulan ketiga Jelena Jankovic dihentikan Sharapova di semifinal, juga dengan relatif mudah.
Nyaris serupa dengan Sharapova, Ivanovic juga tampil memesona. Dari kali pertama bertanding, berturut-turut Sorana Cirstea, Tathiana Garbin, Katarina Srebotnik, Carolina Wozniacki dan Venus Williams ditaklukkannya hanya dalam dua set.
Baru di babak semifinal unggulan keempat asal Serbia itu dipaksa main rubber set oleh Daniela Hantuchova. Tampil buruk di set pertama dan tidak kebagian angka, ia bangkit di dua set berikutnya dan menang 0-6 6-3 6-4.
Statistik seperti itu tentu menjanjikan pertarungan final hari Sabtu (26/1/2008) nanti berlangsung sengit. Yang juga menjadikan duel ini makin menarik adalah karena kedua petenis memiliki paras jelita alias sedap dipandang mata.
Yang semoga tidak terjadi adalah sebuah antiklimaks. Di final tenis fenomena ini sering terjadi. Stamina yang terlanjur terkuras di babak-babak sebelumnya kerap menjadi ganjalan seorang finalis untuk justru tampil habis-habisan di partai puncak.
Contohnya final tahun lalu di turnamen yang sama. Hanya kehilangan satu game sejak babak pertama sampai semifinal, Sharapova justru melempem di laga pamungkas. Ia kalah telak 1-6 2-6 dari Serena Williams hanya dalam waktu satu jam tiga menit.
(a2s/din)











































