Di Rod Laver Arena, Sabtu (26/1/2008) kemarin, Ivanovic kembali dipaksa menunda meraih gelar Grand Slam pertamanya. Setelah ditumbangkan Justine Henin di final Prancis Terbuka tahun lalu, yang merupakan final Grand Slam pertamanya, kali ini Maria Sharapova yang menghalanginya dari podium juara Australia Terbuka setelah takluk 7-5 dan 6-3.
Seperti layaknya semua orang yang megalami kegagalan, putri Serbia berusia 20 tahun itu juga kecewa, beberapa tetes air mata pun membasahi wajahnya usai kekalahan kemarin. Tapi Ivanovic juga punya jiwa layaknya petenis besar dunia, menurutnya kegagalan sekarang adalah pembuka jalan untuk sukses di masa mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ivanovic kini memang berada di dalam grup pemain top, cuma Justine Henin yang menghalanginya dari puncak daftar WTA. Menjadi runner-up di Australia Terbuka mengantar Ivanovic duduk di posisi dua ranking tersebut, menggeser Svetlana Kuznetsova. Padahal sembilan bulan lalu petenis cantik berpostur 1,86 m dan bobot 69 kg itu masih berada di urutan 16.
"Sembilan bulan lalu saya masih ranking 16, dan sekarang saya posisi dua. Saya sangat bangga dengan raihan ini, tapi saya masih membiasakan diri dengan hal ini," lanjut dia.
Dibanding saat tumbang di Rolland Garros dengan skor telak 6-1 dan 6-2, penampilan Ivanovic di Rod Laver Arena bisa dibilang jauh membaik meski akhirnya menyerah 7-5 dan 6-3. Adalah servis keras dari Sharapova plus banyaknya unforced error yang dilakukannya sendiri, 33 berbanding 15, yang ikut berperan besar dalam kegagalan tersebut.
"Pengalaman ini akan memberikan motivasi ekstra untuk berlatih lebih keras dan memastikan kalau pada kesempatan lain saya bisa menjadi juara. Ini juga memberi saya kepercayan diri yang lebih besar," pungkas Ivanovic. (din/krs)











































