Kali terakhir Indonesia jadi juara di ajang perorangan paling bergengsi tersebut adalah di tahun 2003 melalui pasangan ganda putra Chandra Wijaya dan Sigit Budiarto. Di nomor tunggal putra dan putri justru lebih lama lagi, yakni di tahun 1993 & 1994, saat Heryanto Arbi dan Susi Susanti memenanginya.
Disinggung mengenai masa paceklik prestasi pebulutangkis nasional, Christian Hadinata selaku Kepala Sub Direktorat Pelatnas, yang hadir dalam konperensi pers di Planet Hollywood, Rabu (27/2/2008), mengungkapkan, "Ada satu masa transisi pembinaan. Pemain harus dibina secara intensif, dan tidak hanya itu, penyesuaian terhadap sistem rally point juga berpengaruh".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagai pengurus, kalau saya tidak optimistis, bagaimana (dengan) para pemain. Tapi memang ada pergeseran di beberapa sisi. Kalau dulu di tunggal putra, bukan berarti (kini) tidakk bagus. Tapi sekarang kekuatan ada di ganda putra, ganda campuran, baru kemudian tunggal putra," ujarnya yakin.
Tidak hanya Lius Pongoh, pemain spesialias ganda Vita Marissa juga optimistis bisa meraih gelar juara. Seperti yang diungkapkannya disela-sela konferensi pers kepada wartawan, "Nggak ada yang nggak mungkin. Jadi ya nekat aja," pungkasnya.
Saat ini Indonesia memiliki pemain-pemain bulutangkis tangguh kelas dunia. Di antaranya Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, Markis Kido, Luluk Hadiyanto, Alvent Yulianto, Nova Widiyanto, dan Vita Marissa, yang juga ikut meramaikan turnamen Super Series kali ini.
Turnamen All England Super Series 2008 akan digelar di Birmingham, Inggris, pada 4-9 Maret mendatang. Ajang yang di gelar setiap tahunnya ini menjanjikan hadiah total sebesar 200 ribu dolar AS, atau sekitar Rp 1,79 miliar.
Bisa juara lagi? Ya, kita lihat saja nanti.
Foto: Nova Widianto/Lilyana Natsir. Salah satu harapan Indonesia untuk meraih gelar di All England tahun ini. (AFP)
(krs/arp)











































