Harapan terhadap para ganda ini tidaklah terlalu muluk mengingat mereka memiliki rangking bagus dalam Badminton World Federation, per 28 Februari 2008.
Dua ganda campuran Indonesia mampu duduk di lima besar, yakni Nova Widiyanto dan Liliyana Natsir yang bercokol di posisi dua, sementara satu tempat di bawahnya diisi Flandy Limpele dan Vita Marisa. Kedua pasangan itu "dikerubuti" pasangan Cina yang menempati posisi satu, empat dan lima.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana dengan tunggal? Di putra, Indonesia hanya mampu berada di posisi enam dan tujuh yang masing-masing ditempati Sony Dwi Kuncoro dan Taufik Hidayat. Di bagian putri lebih menyedihkan lagi karena posisi terbaik yang diraih Maria Kristin Yulianti adalah pada peringkat 24.
Pun demikian di All England, di mana prestasi ganda masih lebih terasa gaungnya. Kali terakhir Indonesia jadi juara adalah di tahun 2003 melalui pasangan ganda putra Chandra Wijaya dan Sigit Budiarto. Sedangkan di nomor tunggal putra dan putri malah memanjang sampai tahun 1993 dan 1994, saat Heriyanto Arbi dan Susi Susanti jadi pemenang.
Maka tak salah kalau kini kekuatan Indonesia di All England lebih ditumpukan pada ganda putra, yang saat ini dinilai lebih punya potensi.
Lalu bagaimana kesiapan mereka sendiri dalam menjawab kepercayaan? Markis Kido yang akan berpasangan dengan Hendra Setiawan menegaskan kesiapan mereka untuk bisa mengumandangkan Indonesia Raya dalam turnamen berhadiah 200 ribu dollar AS tersebut.
"Persiapannya bagus dan kondisi juga lagi fit, ya mudah-mudahan bisa," ungkap kakak
dari Pia Bernadette itu sebelum keberangkatannya ke Birmingham, tempat penyelenggaraan All England.
Dalam perjalanan menuju tahta juara, lawan-lawan tangguh pastinya sudah menanti. Siapa yang terberat di mata Markis? "Kalau dari luar, ya ganda Malaysia. Tapi kalau dari Indonesia, ya dia," dia seraya menunjuk Luluk Hadiyanto, pasangan Alvent Yulianto, yang saat itu ada di sebelahnya.
Meski empat tahun vakum gelar, momen ini seyogyanya bisa dijadikan start awal untuk
kembali menegakkan supremasi bulutangkis Indonesia yang sedang paceklik ini. Mungkinkah All England 2008 akan jadi titik awal dalam meretas momentum untuk merebut kembali supremasi kejayaan yang pernah diraih?
(krs/arp)











































