Politik Transfer BVB Dortmund: Antara Ambisi, Realita dan Kebajikan Uli Hoeness

ADVERTISEMENT

Politik Transfer BVB Dortmund: Antara Ambisi, Realita dan Kebajikan Uli Hoeness

- Sepakbola
Kamis, 16 Jan 2014 16:05 WIB
Foto-foto: AFP/Patrik Stollarz
Jakarta - Di buku terbaru saya, @coachtimo Menjawab, tertera sedikit rahasia di balik kesuksesan BVB Dortmund menjuarai Bundesliga selama dua tahun berturut turut, serta pencapaian yang sangat baik di Liga Champions (runner-up musim lalu). Disebutkan di situ bahwa statistik running game BVB sangat impresif; daya jelajah BVB secara tim rata-rata adalah 118 sampai 120 km per game. Rata-rata jumlah sprint yang dilakukan tim BVB secara keseluruhan juga wahnsinn (baca: gila) : 190 sprint per game!

Fitness pemain BVB dan kemampuan mereka untuk melakukan pressing secara kolektif adalah faktor besar di balik suksesnya klub dengan jumlah pengunjung stadion tertinggi di dunia ini.

Banyak faktor lain tentu saja ikut andil dalam kesuksesan BVB menjelma menjadi raksasa Eropa, termasuk satu faktor amat penting; politik transfer pemain.

CEO Dortmund, Hans Joachim Watzke, pernah menyatakan bahwa sebagai bagian dari transfer politic yang dianut, klub tidak akan melepas dua bintang sekaligus dalam satu musim. Bahwa BVB mau tidak mau, cepat atau lambat, harus menjual bintangnya adalah realita yang ada. Budget Dortmund cukup baik tapi hanya kelas menengah dibanding klub-klub Eropa lainnya. Di Jerman sendiri budget per musim Dortmund hanya setengah dari Bayern Muenchen. (By the way, budget Bayer Leverkusen sebagai klub ketiga terkaya Jerman hanya setengah dari Dortmund. Klub-klub lain malah lebih rendah lagi daripada ketiganya). Artinya, ada banyak klub Eropa yang berpotensi merayu para bintang BVB dengan gaji yang jauh di atas nilai gaji yang mereka terima di Dortmund. Karena kebanyakan pemain tidak mampu menolak godaan fulus sekaligus kesempatan bermain di klub dengan nama besar, eksodus tidak bisa terelakkan.

Tapi paling tidak sampai sekarang Dortmund cukup berhasil menekan laju eksodus. Musim panas lalu Robert Lewandowski, bomber timnas Polandia, yang menjadi incaran high priority banyak tim top Eropa berhasil dipertahankan. Sebuah keputusan yang mahal karena Dortmund kehilangan sekitar 40 Juta euro. Jumlah 40 juta euro didapat dari akumulasi gaji Lewandowski yang telah dinaikkan, pemasukan dari transfer yang hilang (musim depan Lewandowski ke Bayern secara gratis karena kontrak dengan Dortmund telah habis) , serta fee agent dari Lewandowski.

Mengapa Lewandowski tidak dijual saja musim panas lalu? Bukankah dengan demikian paling tidak Dortmund masih bisa mendapatkan uang untuk Lewandowski. Jawabnya adalah politik transfer BVB yang tidak menginginkan lebih dari satu bintang pergi dari Dortmund dalam satu musim. Manajemen Dortmund berharap bahwa dengan adanya Lewandowski BVB akan bisa kembali berprestasi musim ini dan melaju jauh di berbagai kompetisi terutama Liga Champions, sehingga akan ada banyak pemasukan yang bisa menutup bahkan melebihi 40 juta euro itu tadi. Sejauh ini hitung-hitungan tersebut cukup berhasil karena Dortmund berhasil mencapai babak 16 besar Liga Champions dan memiliki kans yang cukup besar untuk bisa melaju paling tidak ke babak 8 besar.

Tapi sampai kapan politik transfer Dortmund akan berhasil dijalankan? Lewandowski sudah pasti hijrah (ke pesaing terberat di Bundesliga; Bayern) musim panas depan. Sementara itu Mats Hummels, Ilkay Gundogan dan juga Marco Reus terus menjadi incaran Real Madrid, Chelsea, MU dan Barcelona. Berapa lama mereka akan bertahan? Kontrak Gundogan berakhir 2005. Gelandang 23 tahun itu sampai sekarang menolak memperpanjang kontrak. Artinya musim panas ini adalah kesempatan terakhir Dortmund mendapatkan transfer fee untuknya. Reus yang memiliki kontrak sampai 2017 namun mulai tahun 2015 berhak atas austiegklausel (baca: hak keluar kontrak ) senilai 35 juta euro, juga menolak penghapusan austiegklausel tersebut walau ditawarkan kenaikan gaji yang signifikan.



Tapi penggemar Dortmund jangan stres dulu. Matahari selalu ada walau seringkali tersembunyi di balik awan gelap. Faktanya sampai sekarang Dortmund cukup berhasil mengompensasi kepergian bintang-bintangnya seperti Nuri Sahin (2011 ke Real Madrid), Shinji Kagawa (2012 ke MU) dan Mario Goetze (2013 ke Bayern Muenchen). Pemain muda Jerman seperti Matthias Ginter (defensive midfielder dari SC Freiburg) dan Kevin Volland (ofensive midfielder/penyerang asal Hoffenheim) menjadi incaran utama yang cukup murah namun berkelas. Nama-nama lain yang masih dirahasiakan juga dijamin berpotensi menjadi bintang baru bagi penggemar fanatik Dortmund. Memang harus diakui scouting department BVB cukup mumpuni.

Perlu diketahui bahwa setiap klub Eropa memiliki sederet scout profesional yang tugas sehari-harinya hanya mencari bakat, baik di Jerman sendiri maupun di negara-negara lain. Biasanya beberapa scout masing-masing ditugaskan mencari bakat-bakat berumur 12 tahun ke bawah di lingkup lokal, 15 tahun ke bawah di lingkup regional, 21 tahun ke bawah di lingkup internasional untuk akademi, serta segala umur di lingkup internasional untuk tim senior. Masing-masing kelompok umur tadi dikepalai oleh seorang scout kepala yang membawahi beberapa staf scout profesional penuh waktu. Tidak heran klub-klub pada nemu aja bintang baru tiap tahunnya.

Kinerja bagus dari para scout Dortmund ditambah karisma der Trainer Juergen Klopp membuat Dortmund selama ini terus berhasil merekrut bintang-bintang baru.

Semoga politik transfer BVB dan kinerja para scout Dortmund bisa terus dipertahankan sebaik mungkin sehingga Bundesliga tidak menjadi one club show-nya Bayern Muenchen di masa-masa mendatang.

Secerah harapan justru datang dari bos raksasa Bundesliga Bayern Muenchen. Uli Hoennes baru-baru ini menyatakan bahwa pembagian hak siar TV sebaiknya diubah sehingga saat FOX TV masuk pada tahun 2015, pembagian uang (senilai 140 juta Euro per musim) bagi masing-masing klub Bundesliga akan semakin banyak dan merata.

Sebagai info, saat ini pembagian hak siar Bundesliga (senilai 65,6 juta euro per musim) dibagi sesuai posisi klasemen (27 juta euro) dan jumlah nilai klub sesuai penilaian UEFA dalam 5 tahun terakhir (38,6 juta euro). Walau cukup fair, pembagian dengan cara tersebut mengakibatkan ketimpangan pemasukan yang cukup besar di antara peserta Bundesliga. Hoeness dengan bijak melihat pembagian tersebut menguntungkan Bayern, namun sangat merugikan nilai kompetitif Bundesliga. Tanpa adanya ketegangan dan persaingan yang ketat nilai jual Bundesliga akan menurun. Karena itu mulai 2015 akan ada perombakan sistim pembagian fee hak siar.

Kalau itu terjadi politik transfer Watzke akan medapatkan angin segar yang cukup kencang. Minimal gap antara ambisi dan realita di BVB Dortmund bisa tereduksi.

Ich liebe die Bundesliga. I love Liga Jerman.



====

* Penulis pernah melatih timnas putri Indonesia, Persema Malang dan jadi Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI. Saat ini juga menjalankan akademi pribadinya, Malang Football Club.

* Berlatar belakang guru Sejarah Dunia, pelatih berlisensi A UEFA ini telah menulis banyak buku sepakbola. Yang terbaru berjudul @coachtimo Menjawab: 101 Tanya Jawab Seru Tentang Sepak Bola, diterbitkan oleh Gramedia dan telah beredar di toko-toko buku sejak 16 Januari 2014.

* Website: www.coachtimo.org Akun twitter: @coactimo




(a2s/krs)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT