Kisah Sedih Roberto Baggio di Piala Dunia 1994

Doni Wahyudi - Sepakbola
Senin, 28 Mei 2018 19:14 WIB
Roberto Baggio gagal mengeksekusi penalti saat Italia berhadapan dengan Brasil di final Piala Dunia 1994 (Shaun Botterill/Getty Images)
Jakarta - Roberto Baggio adalah spesialis set piece. Performanya yang memukau mengantar Italia ke final Piala Dunia 1994. Maka kegagalan dia mengeksekusi penalti adalah sebuah bencana.

Kalau ada peristiwa-peristiwa yang bisa dianggap sebagai tragedi di sepanjang sejarah Piala Dunia, maka kegagalan penalti Roberto Baggio di 1994 adalah salah satunya. Baggio tak layak mendapatkan kepahitan itu, setelah apa yang dia pertunjukkan di sepanjang turnamen.

Tapi sejarah sudah tertulis. Kegemilangan Baggio di Piala Dunia 1994 ditutup bayang-bayang gelap kegagalan penalti dan kegagalan Italia gagal jadi juara lantaran kalah dari Brasil dalam adu tos-tosan di babak final.

"Itu momen terberat dalam karier saya. Sebelum berangkat ke laga final, guru spiritual Budha saya bilang kalau saya akan menghadapi banyak masalah dan semuanya akan ditentukan di menit-menit terakhir. Saat itu saya tak menyadari kalau prediksinya akan sangat akurat," tulis Baggio dalam Una Porta Nel Cielo' (A Goal In The Sky), buku autobiografinya.

Italia di Piala Dunia 1994

Italia datang ke Piala Dunia 1994 dalam kondisi di mana sepakbola mereka tengah berada di salah satu periode terbaik. Tiga pemain termahal dunia bermain di Serie A ketika itu, Gianluigi Lentini, Jean-Pierre Papin dan Gianluca Vialli.

Di kompetisi domestik AC Milan baru meraih gelar ketiganya secara beruntun. Milan meneruskannya dengan meraih kemenangan 4-0 atas Barcelona-nya Johan Cruyff di final Liga Champions. Itu membuat para pemain Milan semisal Baresi, Maldini, Donadoni, Albertini dan Massaro menjadi langganan starter. Ada juga Beppe Signori, yang baru saja merebut gelar topskorer untuk kali kedua secara beruntun.

Tapi Italia mengawali Piala Dunia 1994 dengan kesulitan. Mereka kalah 0-1 dari Republik Irlandia di laga pertama, cuma menang 1-0 atas Norwegia di pertandingan kedua, dan Berimbang 1-1 kontra Meksiko di laga terakhir fase grup.

Grup tersebut hingga kini masih jadi satu-satunya grup di Piala Dunia yang keempat timnya punya poin sama dan selisih gol yang juga sama.

Klasemen akhir fase grup tempat Italia bergabung di Piala Dunia 1994Klasemen akhir fase grup tempat Italia bergabung di Piala Dunia 1994 Foto: ist.


Di fase gugur pertama besar Italia bertemu Nigeria. Di babak pertama mereka tertinggal 0-1 berkat gol Emmanuel Amunike. Gianluza Zola masuk lapangan di babak kedua untuk menambah variasi serangan, tapi malah dapat kartu merah 10 menit kemudian. Tertinggal satu gol dan kalah jumlah pemain membuat Italia berada di ujung tanduk.

Italia sepertinya akan kalah, sampai akhirnya di menit 88 Roberto Baggio mencetak gol untuk memaksakan laga lanjut ke perpanjangan waktu. Roberto Mussi melakukan cut in setelah menusuk di sayap kanan, dia melepaskan umpan ke Baggio setelah melewati bek lawan. Sepakan Baggio mengubah kedudukan jadi 1-1.

Di perpanjangan waktu, Baggio melepaskan umpan ke Antonio Benarrivo yang memecah pertahanan Nigeria. Benarrivo dilanggar di kotak penalti. Baggio mencetak gol keduanya pada laga itu lewat eksekusi dari titik putih.

Melangkah ke perempatfinal, Italia berhadapan dengan Spanyol. Dino Baggio sempat membuat Italia unggul meski kemudian disamakan Jose Luis Perez Caminero. Dalam kedudukan 1-1 di menit 88, (Roberto) Baggio muncul lagi sebagai pahlawan penentu kemenangan Italia dengan golnya. Baggio memperdaya Andoni Zubizarreta untuk menuntaskan serangan balik cepat Gli Azzurri.

Roberto Baggio saat akan mencetak gol penentu kemenangan Italia atas Spanyol di Piala Dunia 1994 Roberto Baggio saat akan mencetak gol penentu kemenangan Italia atas Spanyol di Piala Dunia 1994 Foto: Simon Bruty/ALLSPORT


Bulgaria gantian mengadang Italia di babak semifinal. Hristo Stoickov, topskorer turnamen bersama Oleg Salenko, menjebol gawang Italia melalui penalti di menit 44.

Tapi Italia ketika itu sudah unggul 2-0. Roberto Baggio mencetak kedua gol Italia, yang pada akhirnya menjadi penentu diraihnya tiket ke final, pada menit 21 dan 25.

Seandainya Baggio Tak Main di Final

Roberto Baggio terancam absen di final Piala Dunia 1994 menghadapi Brasil. Dia mengalami cedera dan ditarik keluar lapangan saat laga dengan Bulgaria masih tersisa 20 menit.

Cedera Baggio ketika itu sebenarnya tak parah, tapi dia cuma punya waktu dua hari untuk pemulihan. Baggio sendiri punya hasrat besar untuk main, meski dia juga khawatir cederanya akan lebih parah.

Pada pagi sebelum pertandingan, ratusan penganut Budha berkumpul di sebuah tempat ibadah mendoakan Baggio pulih untuk final. Baggio, yang menjadi penganut Budha sejak 1980-an, telah mendonasikan uang untuk merenovasi tempat ibadah tersebut. Baggio juga sudah membiayai beberapa biksu terbang ke Italia untuk bertemu dengannya.

Pada akhirnya Baggio bermain di final menghadapi Brasil. Skor bertahan 0-0 sampai perpanjangan waktu tuntas. Dan saat adu tendangan penalti, bola sepakan Baggio melayang tinggi jauh di atas mistar gawang Claudio Taffarel. Penalti terburuk yang pernah diambil Baggio.

Sebenarnya bukan Baggio saja yang gagal mengeksekusi penalti. Franco Baresi dan Daniele Massaro juga gagal menuntaskan tugasnya. Tapi kegagalan eksekusi penalti Baggio adalah yang paling sulit diterima.

"Sayangnya, saya tidak tahu kenapa, bolanya melayang ke atas tiga meter dan melebihi mistar gawang. Untuk mengambil penalti sebagai penendang pertama, saya kelelahan saat itu, tapi saya adalah pengambil penalti tim. Saya tak pernah lari dari tanggung jawab," ucap Baggio.

Roberto Baggio Pasca Piala Dunia 1994

"Saya gagal ketika itu. Dan itu mempengaruhi saya bertahun-tahun. Itu periode terburuk dalam karier saya. Saya masih memimpikan momen itu. Jika saya bisa memilih momen untuk dihapus dalam karier saya, itu adalah Piala Dunia 1994."

Kegagalan mengeksekusi penalti memberi pengaruh sangat besar dalam karier Baggio selanjutnya. Usia Baggio saat itu baru 27 tahun, periode emas banyak pesepakbola dunia. Tapi setelah itu, tak banyak lagi yang bisa dia torehkan.

Antara Juli 1994 sampai Juni 1998, Baggio cuma main empat kali untuk Timnas Italia. Arrigo Sacchi tak menyertakan Baggio pada Piala Eropa 1996. Di level klub nasibnya sama saja. Dia menjalani satu musim lagi bersama Juventus sebelum dilepas ke AC Milan oleh Marcello Lippi.

Di San Siro, Baggio menjalani periode yang tidak mudah. Terlebih saat Sacchi datang menjadi pelatih. Baggio lantas membela Bologna selama satu musim, lalu berseragam Inter Milan untuk dua tahun dan menutup kariernya bersama Brescia di tahun 2004.

"Yang kadang terlupakan adalah, bahkan jika saya mencetak gol, Brasil masih mungkin menang dengan (penendang) penalti terakhir, karena sebelum saya Baresi dan Massaro gagal. Itu adalah bagian dari pertandingan. Saya gagal di penalti terakhir, dan kegagalan itu 'menutupi' yang terjadi pada Baresi dan Massaro."

"Dari final itu mereka harus memilih dan mereka memilih kesalahan yang saya lakukan. Untuk sebuah perubahan. Mereka menginginkan domba untuk dikorbankan dan saya dipilih. Melupakan fakta bahwa tanpa saya, kami tidak akan bisa melangkah ke final. Setelah kegagalan penalti itu saya tertegun dan terdiam seperti itu beberapa lama. Saya tak bisa menerima akhir seperti itu. Saat teman-teman saya makan bersama, saya mengunci diri dalam kamar," kenang Baggio.

(din/nds)