Akhir bulan lalu, FIFA mendenda Kroasia 30 ribu franc Swiss atau Rp 258 juta karena fansnya meneriaki penyerang Inggris, Emile Heskey, dengan suara monyet saat kedua kesebelasan bersua di Pra Piala Dunia 2010.
Untuk Ferdinand, denda itu terlalu ringan. Akibat hukuman yang tidak serius tersebut, bek Manchester United itu yakin tindakan serupa bakal diulangi kembali di masa mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di masa mendatang, menurut Ferdinand, sebuah tim atau pendukung yang berbuat rasis harus dikurangi poinnya jika FIFA atau UEFA memang ingin serius memerangi rasisme.
"Kroasia didenda beberapa ribu poundsterling. Kebaikan apa yang bisa dilakukan dengannya? Mereka hanya akan mengulanginya," ketus Ferdinand. "FIFA mendenda Federasi Sepakbola Kroasia beberapa ribu pounds, dan hal itu tidak menghentikan orang melontarkan hinaan rasis atau homofobia."
"Jika mereka terus melakukan hal seperti ini, Anda harus memotong poin mereka. Hingga kemudian penonton akan berpikir bila mereka melakukannya maka timnya akan dihukum," jelas pria 29 tahun itu kemudian.
Ferdinand ada benarnya. Hukuman kepada kroasia bukanlah yang pertama tahun ini. Akibat perilaku rasis yang dilakukan fans Hvratska di partau perempatfinal Euro 2008 melawan Turki, negara eks Yugoslavia itu telah didenda 12.500 euro (Rp 166 juta).
"Orang-orang di FIFA dan UEFA kelihatannya suka membicarakan banyak hal yang 'bergaya' saat ini. Mereka tidak mengelola urusan penting dengan tindakan tepat,"tuntas Ferdinand, masih ketus.
(arp/krs)











































