Sebagai pemain, kehebatan Maradona memang tak terbantahkan. Dinobatkan sebagai pemain terbaik Abad 20 adalah bukti yang paling nyata dari pengakuan dunia tentang si boncel yang mengguncang planet ini dengan cerita "Tangan Tuhan" di Piala Dunia 1986 itu.
Namun, sebagai pelatih Maradona nyaris tidak ada apa-apanya. Ia pernah menukangi dua klub di pertengahan 90-an, Mandiyu de Corrientes dan Racing Club de Avellaneda, tapi hanya bertahan singkat. Untuk dua klub itu ia hanya berlakon dalam 23 pertandingan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Orang selalu membicarakan pengalaman. Tapi aku punya pengalaman 20 tahun dengan timnas Argentina," tutur Maradona, yang menjadi kapten negaranya saat memenangi Piala Dunia 1986 di Meksiko, tapi menjadi pecundang di Piala Dunia 1994 karena gagal tes doping.
"Ketika mereka bilang aku tak berpengalaman, jadinya aku tertawa," tambah pria yang hari ini, Kamis (30/10/208), genap berusia 48 tahun itu, seperti dikutip Reuters.
"Sepakbola belum berubah," katanya kepada sejumlah wartawan di luar rumahnya di Buenos Aires. "Aku rasa belum ada yang bisa mengejutkanku."
Tentang pengalaman, ia juga mengingatkan bahwa dirinya tidak bekerja sendiri. Ia akan didampingi dan dibantu oleh pelatih legendaris Carlos Bilardo, yang telah ditunjuk sebagai general manager atau direktur teknis.
"Aku pikir mereka memberi posisi ini kepadaku di saat yang tepat," tukas Maradona lagi ketika ditanyakan apakah dia saat ini sudah lebih dewasa.
Uniknya, mantan pahlawan Boca Juniors, Barcelona dan Napoli itu menolak dibanding-bandingkan dengan Carlos Dunga, yang ditunjuk menangani Brasil pasca Piala Dunia 2006, padahal juga tidak punya pengalaman.
"Aku bermain tidak seperti Dunga. Dia suka menendang (pemain lawan), saya tidak," imbuh "Sang Maestro". (a2s/krs)











































