Usai tampil cemerlang membela Rusia di Piala Eropa 2008, Arshavin diburu banyak klub, dengan Tottenham Hotspur jadi salah satunya. Namun, bak belum rela, Zenit memasang harga tinggi sehingga klub peminat mundur dan Arshavin pun urung pindah.
Mendekati bulan Januari ketika bursa transfer musim dingin dibuka, playmaker berusia 27 tahun itu pun kembali menunjukkan keinginan untuk hengkang dan pindah ke klub lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saking inginnya hijrah, Arshavin tak sungkan mengancam klubnya agar segera melepas dirinya. "(Kalau tidak) saya hanya akan jadi pemain Zenit di atas kertas saja. Saya sudah tak punya keinginan atau niat bermain di sini tahun depan."
Ultimatum tersebut memang bukannya tanpa alasan, Di awal musim lalu Tottenham Hotspurs sempat mengajukan penawaran untuk Arshavin, namun penawaran tersebut ditolak mentah-mentah oleh Zenit karena terlalu kecil. The Lilywhites pun akhirnya membeli kompatriot Arshavin, Roman Pavlyuchenko.
Arshavin lantas coba "menjual dirinya" kepada Spurs. Boyong dia, Spurs niscaya bisa diantarnya digdaya. "Sebenarnya (jika saya bermain di Spurs), mereka akan bersaing menuju Liga Champions," ucap dia setengah berseloroh.
"Sejujurnya, saya tidak bisa mengira-ngira karena saya tidak di tim (Spurs), dan lebih dari itu, saya belum pernah melihat mereka bermain," pungkas Arshavin.
Jadi, siapa mau Arshavin?
(krs/krs)











































