Para Gila Bola Jadi Pagar Klub Hadapi Krisis

Para Gila Bola Jadi Pagar Klub Hadapi Krisis

- Sepakbola
Kamis, 13 Nov 2008 17:45 WIB
Para Gila Bola Jadi Pagar Klub Hadapi Krisis
Milan - Krisis keuangan global masih menerpa dunia. Tapi sepakbola diyakini terhindar dari dampak terburuk karena loyalitas fans dan kesuksesan penjualan pernak-pernik klub sepakbola.

Hasil Laporan soal Merchandhise dalam Sepakbola Eropa yang dipublikasikan oleh SPORT+MARKT menunjukkan bahwa klub-klub dari enam divisi teratas Eropa menghasilkan total 615 juta Euro (sekitar Rp 8,6 triliun) setiap tahunnya, dari hasil penjualan replika kaos dan barang-barang lainnya.

Itulah alasan mengapa penulis laporan tadi berargumen bahwa krisis finansial global takkan menggerus pemasukan tersebut dalam jumlah besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk banyak orang, sepakbola adalah hasrat --lebih-lebih di masa ketika himpitan ekonomi terasa mencekik. Kami tidak yakin orang-orang akan mengurangi hasratnya dengan besar-besaran. Mereka akan mengencangkan ikat pinggang di sektor pengeluaran lain," analisa direktur eksekutif SPORT+MARKT Hartmut Zastrow kepada Reuters.

"Fakta bahwa merchandise adalah hadiah populer pada kebanyakan pasar menentukan di Eropa juga akan memperkuat pemasukan di masa depan. Kalau sponsor mundur untuk menghemat uang, posisi pemasukan merchandise buat klub bahkan bakal kian signifikan," lanjut dia.

Laporan itu juga mencatat bahwa klub-klub Liga Primer Inggris punya penjualan rata-rata merchandise yang lebih tinggi ketimbang liga-liga terkemuka Eropa lainnya.

Premiership Inggris menghasilkan 171 juta euro (Rp 2,3 triliun), La Liga Spanyol ada di posisi dua dengan 145 juta euro (Rp 2 triliun) sementara Bundesliga menghasilkan 127 juta euro (Rp 1,7 triliun).

Ligue 1 Prancis ada di tempat keempat dengan 86 juta euro (1,2 triliun), diikuti Seri A Italia dengan 64 juta euro (Rp 897 miliar), di mana tiap klub Seri A secara rata-rata cuma menghasilkan 3,2 juta euro (Rp 44,8 miliar) per tahun dari hasil penjualan merchandise. Eredivisie Belanda ada di posisi kelima dengan 22 juta euro (Rp 308 miliar)

"Fans Italia memakai lebih sedikit merchandise. Di Belanda dan Jerman, syal dengan potongan harga sangat populer, sebagaimana kaos tim. Penyedia pernak-pernik klub di Inggris menggunakan kebijakan harga yang sangat berbeda dengan liga lainnya," jelas salah satu penulis laporan itu, Peter Rohlmann, selaku direktur eksekutif untuk PR Marketing.


(krs/din)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads