Pertengahan tahun lalu Gazza kembali menjadi pemberitaan banyak media. Tak lagi mabuk atau aksi kekerasan yang membuatnya terpampang di tabloid, tapi karena mantan pesepakbola berusia 41 tahun itu mencoba menghabisi nyawanya sendiri alias bunuh diri.
Pesepakbola yang sempat membela Newcastle United, Tottenham Hotspur dan Lazio tersebut dikabarkan memotong pergelangan tangannya sendiri sebelum nyawanya diselamatkan polisi yang membawanya ke rumah sakit. Dengan statusnya sebagai pemabuk dan kerap membuat kekacauan, mati bukan perkara baru buat Gazza karena ternyata jantungnya sempat berhenti bekerja sampai tiga kali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski di tengah lapangan aksi-aksinya membuat publik sepakbola Inggris begitu memuja, namun kehidupan pribadi Gazza justru banyak mengundang cibiran. Selain karena terkenal sebagai pemabuk, Gazza juga pernah dilaporkan oleh mantan istrinya, Sheryl, karena melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga.
"Jika Anda sedang duduk di restoran dan tiba-tiba ada orang yang memanggil ibu Anda sebagai w****, dan itu benar dia lakukan, tanpa alasan jelas. Saya boleh tidak menyukainya dan benar kalau saya sempat menggenggam lengannya dan mengarahkan kepala saya dengan kepalanya, saya tidak beradu kepala dengannya tapi saya lempar dia ke lantai," lanjut pria kelahiran 27 Mei 1967 itu.
Aksi kekerasan Gazza bukan hanya ditujukan pada Sheryl. Anak dari hasil pernikahan meereka dan anak angkat dari perkawinan Sheryl sebelumnya juga sempat mengaku menjadi korban pemukulan.
"Saya menjalani terapi: duduk bersama 15-20 wanita dan menceritakan pada mereka apa yang telah saya lakukan. Saya dipukul oleh beberapa perempuan, tapi saya menerima pukulan itu. Saya terus ditempa tapi saya berhasil melewatinya," pungkas pria bernama lengkap Paul John Gascoigne itu. (din/krs)










































