Pada 15 April 1989 Liverpool mengalami musibah terbesar dalam sejarahnya. Sebanyak 96 suporter mereka tewas dalam insiden maut di kota Sheffield, terhimpit dalam kekacauan di dalam stadion Hillsborough.
Petaka itu terjadi menjelang akhir babak pertama pertandingan Liverpool melawan tuan rumah Sheffield Wednesday di babak semifinal Piala FA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cukup banyak poster dan spanduk yang mengusung tema duka itu yang dibawa Liverpudlians di Stamford Bridge. Malam itu memang malam menjelang 20 tahun bencana penonton terburuk dalam sejarah sepakbola Inggris.
Hanya saja, spirit Hillsborough Disaster bukanlah masa lalu yang mengubah peruntungan Liverpool malam ini. Paling tidak, mereka tak mampu menebus kekalahan 1-3 di pertemuan pertama di Anfield.
Bermain 4-4 dalam pertarungan yang menegangkan -- semua pemain Liverpool mengenakan ban lengan warna hitam -- skuad The Kop kalah agregat 5-7 dan harus merelakan tempat di babak semifinal untuk Chelsea.
Meski begitu, performa Jamie Carragher dkk di lapangan patut diacungi jempol. Anak-anak Merseyside bahkan nyaris di atas angin ketika sempat unggul 2-0 sampai akhir babak pertama.
Walaupun sempat dibalikkan menjadi 2-3, lagi-lagi Liverpool sempat memimpin lebih dulu 4-3 di sisa tujuh menit pertandingan. Adalah gol Frank Lampard di menit 89 yang membuyarkan kemenangan mereka.
Pada akhirnya, ketika kemenangan urung didapat dan kegagalan di Eropa harus ditelan, Manajer Rafa Benitez tidak layu. Buat dia, pasukannya telah bermain hebat, penuh daya juang.
"Kami menunjukkan karakter dan kualitas yang luar biasa, dan kami harus sungguh-sungguh merasa bangga. Para pemain telah melakukan sebuah pekerjaan yang hebat dan fans akan sangat senang dengan tim ini," ujar Benitez seusai pertandingan, seperti dikutip situs resmi Liverpool.
(a2s/krs)











































