Kekalahan dari Manchester United di semifinal Liga Champions Rabu (6/5/2009) dinihari tadi menamatkan harapan satu-satunya Arsenal untuk meraih gelar juara di musim ini. Mereka sudah jauh-jauh hari kehilangan Piala Carling dan Piala FA, sedangkan mencuri titel Premiership pun tak mungkin lagi.
Alhasil, selama empat musim berturut-turut tim London utara itu tidak menambahkan piala ke lemari medalinya. Kali terakhir Kolo Toure dkk memenangi kompetisi adalah Piala FA 2005. Di Liga Inggris, dari tiga yang telah disumbangkan Wenger, yang terakhir terjadi di musim 2003/2004.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalahnya, Wenger harus menanyakan ini kepada suporternya: pilih tim muda berbakat besar, atau piala? Dengan kenyataan bahwa sudah empat musim beruntun tanpa piala, boleh jadi pilihan itu lebih gampang buat dijawab.
"Ini yang paling mengecewakan, karena saya merasa fans sangat bersemangat untuk mendapatkan sebuah malam yang besar. Juga karena kekalahan ini mengecewakan orang-orang yang senantiasa mendukung kami. Ini amat menyakitkan," ia mengucapkan demikian seusai timnya kalah dari MU tadi malam.
Pembangunan Emirates Stadium adalah faktor terbesar Arsenal tidak membeli banyak pemain kelas satu dalam beberapa tahun terakhir. Sampai kapan soal itu dijadikan alasan, Wenger bisa menanyakannya kepada direksi klub, kecuali kalau ia terlanjur "anti" membeli bintang jadi (dan "cukup umur").
Atau boleh jadi Wenger sesungguhnya tidak puas dengan keterbatasan dana timnya, sehingga ia harus menutupi keterbatasan itu dengan cara mengagung-agungkan Young Gunners, yang meskipun diakui sangat berhasil secara fundamental, tapi output nyata (baca: gelar juara) tidak ada.
Buat Arsenal, Wenger sepertinya terlalu berharga untuk digantikan sosok lain, paling tidak, belum saatnya. Berutang jasa juga menjadi faktor. Kalau tidak karena orang Prancis ini, mungkin sejarah "Gudang Peluru" tidak sama dengan yang terjadi dalam satu dasawarsa terakhir.
Selain tiga titel liga dan empat Piala FA, plus empat gelar Charity Shield/Community Shield, cuma Wenger manajer yang sanggup membawa Arsenal menembus babak semifinal Liga Champions. Dan itu dilakukannya dua kali: tahun ini dan tiga musim lalu.
Wenger pula yang menjadikan MU punya rival kuat selain Liverpool, sampai Roman Abramovich datang dan menyulap Chelsea sebagai tim tangguh. Hal-hal lain tentang Wenger dan Arsenal, semua orang mudah mendapatkan referensinya.
Ketua klub Peter-Hill Wood sekitar empat tahun lalu pernah memberi apresiasi begitu tinggi pada Wenger. Entah serius atau basa-basi, ia menyodorkan "kontrak terserah" pada Wenger. Sampai kapan master di bidang ekonomi itu ingin bekerja di London, ia tinggal mengisi sendiri di kolom tahunnya.
Kembali ke faktor piala, yang mana gelar juara adalah ukuran kesuksesan sebuah klub besar, Wenger terlalu lama bertangan hampa. Dia selalu punya pilihan, termasuk mendengarkan wacana perekrutan dirinya oleh Real Madrid, yang konon takkan memperpanjang kontrak Juande Ramos, setelah musim ini nirgelar.
Sekali lagi, Wenger punya pilihan dan konsekuensi-konsekuensinya. Bertahan di Arsenal dengan semua kemapanan filosofinya, plus kendala-kendala yang ada; ataukah mulai bersikap pragmatis -- membesut tim besar bertabur bintang, membeli banyak pemain top, dan merancang taktik-taktik yang cocok. Targetnya sebenarnya sama: lebih cepat memegang piala lagi. (a2s/roz)











































