Ovrebo adalah pengadil asal Norwegia yang mewasiti laga semifinal Kamis (7/5/2009) dinihari WIB di Stamford Bridge. Ia dijadikan kambing hitam atas kegagalan Chelsea mengalahkan Barca, sehingga skor imbang 1-1 membuat The Blues gagal meluncur ke final.
Pria 43 tahun itu tercatat cukup sering memimpin pertandingan Liga Champions sejak 2001, dan juga memiliki pengalaman di sejumlah partai internasional. Namun, performanya di London tadi malam begitu menyulut kontroversi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu jelas-jelas di dalam kotak, dan wasit bisa melihatnya dengan sangat jelas. Saya sudah melihatnya dari rekaman video. Saya pikir, yang itu kami dirampok," sergah Hiddink.Β
'Trauma' wasit pernah dialami Chelsea empat tahun silam, juga ketika bertanding melawan Barcelona di babak knockout Liga Champions. Waktu itu kubu Chelsea berkonfrontasi sengit melawan wasit asal Swedia, Anders Frisk.
Yang terkenal dari kejadian itu adalah ketika Jose Mourinho,menuduh Frisk bermain main mata dengan Barca, karena melihat Frisk mengundang pelatih rivalnya, Frank Rijkaard, ke ruang ganti ofisial saat turun minum.
Belakangan tuduhan itu berbalik pada Mourinho, yang kemudian dihukum tak boleh mendampingi timnnya dari bench di dua pertandingan perempatfinal melawan Bayern Munich. Dari penyelidikan UEFA, Rijkaard menyapa Frisk di tunnel dan mencoba membahas jalannya pertandingan sambil menuju ruang ganti wasit. Namun, Frisk kemudian mengatakan "ini bukan tempat atau waktu yang tepat untuk membicarakannya", dan tidak mempersilakan Rijkaard masuk ruangannya.
Tak cuma itu, Frisk juga harus pensiun lebih dini karena merasa tidak nyaman lagi dengan pekerjaannya. Dari kepemimpinannya di laga Chelsea-Barca tersebut, ia mendapat ancaman mati dari fans Chelsea, yang marah karena mengartumerah Didier Drogba di leg pertama.
Kembali ke Ovrebo, Hiddink menganggap UEFA kurang jeli untuk menugasi ofisialnya memimpin pertandingan penting. Semestinya wasit terpilih adalah mereka yang biasa bekerja di kompetisi level tinggi.
"Yang saya yakin adalah kita harus mendapatkan wasit-wasit top yang memiliki pengalaman di liga-liga besar, di Italia, Spanyol, Inggris dan Jerman, sehingga mereka bisa menanggulanginya."
"Tentu saja pemain bisa melakukan kesalahan, pelatih, dan wasit pun begitu. Tapi, kalau Anda melihat tiga atau empat situasi yang dibiarkan, maka itulah pewasitan terburuk yang pernah saya lihat."
"Saat ini saya harus berpikir keras apakah saya pernah melihat kepemimpinan wasit yang lebih buruk dari yang ini," papar Hiddink seperti dikutip dari AFP. (a2s/nar)











































