Olimpico yang Akrab dengan Penalti

Jelang Final Liga Champions

Olimpico yang Akrab dengan Penalti

- Sepakbola
Senin, 25 Mei 2009 09:35 WIB
Olimpico yang Akrab dengan Penalti
Roma - Stadion Olimpico Roma adalah panggung yang akrab dengan penalti. Nyaris semua laga puncak kejuaraaan besar yang digelar di Olimpico ditentukan oleh penalti, baik itu di waktu normal atau pun adu penalti.

Tengah pekan nanti, Olimpico mendapat kehormatan untuk menggelar final Liga Champions musim ini yang mempertemukan Barcelona dan Manchester United.

Banyak opini dari berbagai kalangan soal pertandingan akbar tersebut. Salah satu yang patut disimak adalah yang terlontar dari Jose Mourinho. "Laga ini akan diselesaikan lewat adu penalti," tukas pelatih Inter Milan itu seperti dilansir dari Goal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pendapat Mourinho ada benarnya, bila menilik "sejarah" Olimpico yang begitu akrab dengan penalti. Sebelum Barca kontra MU, ada enam final kejuaraan besar digelar di stadion yang dibuka pada tahun 1937 ini.

Laga-laga tersebut adalah dua final Piala Eropa (1968 dan 1980), satu final Piala Dunia (1990), dua final Piala Champions (1977, 1984), dan satu final Liga Champions (1996).

Di antara enam partai puncak itu, hanya final Piala Eropa 1968 antara Italia melawan Yugoslavia, yang berkesudahan 2-0, yang tidak dihiasi oleh penalti. Sementara sisanya selalu diwarnai penalti.

Di final Piala Champions 1976/77, gol Phil George Neal dari titik putih di menit ke-82 mengunci kemenangan Liverpool 3-1 atas Borussia Moenchengladbach. Ini sekaligus trofi Piala Champions pertama bagi The Reds.

Kisah tentang penalti kembali berlanjut di final Piala Eropa 1980 ketika Jerman Barat bertemu Belgia. Penalti Rene Vanderycken lima belas menit sebelum bubaran, sempat memberikan harapan bagi Belgia. Sayang, di menit terakhir Jerman Barat mampu mencetak gol kemenangan dan akhirnya menjadi juara dengan skor 2-1.

Penalti kembali menjadi jalan Liverpool untuk menjadi juara Piala Champions. Kali ini bukan di waktu normal, melainkan adu penalti. The Reds menundukkan AS Roma di final musim 1983/84 lewat tos-tosan. Kisah kepahlawanan kiper Bruce Grobbelar terukir di Olimpico. Liverpool menang 4-2 di babak penalty shootout, dan 5-3 secara agregat.

Enam tahun kemudian, giliran Jerman Barat yang memastikan menjadi raja dunia lewat titik putih. Gol Andres Brehme dari sepakan 12 pas di menit ke-85 cukup untuk mengantar Jerman menekuk Argentina 1-0 dan berhak atas trofi Piala Dunia.

Final Liga Champions 1995/96 menjadi kali terakhir di mana Olimpico menggelar laga puncak turnamen internasional. Ketika itu, stadion di ibukota Italia ini menjadi saksi kemenangan Juventus atas Ajax Amsterdam lewat adu penalti. Di babak tos-tosan, La Vecchia Signora menang 4-2 dan 5-3 secara agregat.

Bagaimana musim ini?

(krs/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads