Sudah tiga kali MU merasakan partai final Liga Champions, dengan yang pertama pada tahun 1968. Dalam final yang dihelat di Stadion Wembley ini 'Setan Merah' keluar sebagai juara usai menundukkan Benfica dengan skor 4-1.
Meski skornya terbilang mencolok, MU tak meraihnya dalam waktu normal. Skuad yang kala itu masih dilatih oleh Sir Matt Busby harus melewati extra time sebelum akhirnya bisa mengangkat trofi juara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terakhir adalah tahun lalu, di mana mereka mengalahkan sesama wakil Inggris, Chelsea. Kali ini MU harus melalui drama adu penalti sebelum keluar sebagai juara. Yang menjadi pahlawan adalah Edwin Van der Sar yang sukses menggagalkan ekskutor terakhir The Blues, Nicolas Anelka.
Bagaimana dengan tahun ini? Barca yang menjadi lawan adalah tim paling subur di Liga Champions musim ini, bahkan sepanjang musim mereka bisa menang dengan skor telak di La Liga. Bisa dibilang Los Blaugranas adalah lawan berat.
Bisa jadi pasukan Sir Alex Ferguson akan kembali mengalami partai final yang tidak mudah. Namun, Nemanja Vidic, optimistis timnya bakal mampu mengatasi tekanan lantaran mereka sudah bisa menghadapi hal semacam itu.
"Jika kami butuh gol-gol maka kami akan mencetaknya. Dalam beberapa pertandingan kami pernah tertinggal satu atau dua gol tapi akhirnya bisa keluar sebagai pemenang," tukas dia di Reuters.
"Kami telah membuktikan bahwa ketika kami membutuhkan gol, maka para penyerang kami bisa melakukannya. Tim mana pun yang maju ke final adalah tim yang bagus dan ini akan menjadi final yang menarik," tutupnya. (roz/arp)











































