Ferguson saat ini berusia 67 tahun, sementara Guardiola baru Januari lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-38. Dengan perbedaan usia mencapai 29 tahun, dua pelatih yang akan berada di bench Stadion Olimpico Roma besok lusa itu bahkan pantas menjadi pasangan ayah-anak.
Buat Fergie, final Liga Champions edisi ini adalah yang ketiga sepanjang karir kepelatihannya yang sudah dimulai sejak 35 tahun lalu. Di seluruh kesempatan melaju ke partai puncak tersebut, yang selalu dilakukannya bersama Manchester United, dia lantas menuntaskan dengan menjadi juara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia ingin mempersembahkan tropi Liga Champions tahun ini buat kedua orangtuanya. Ayah dan ibu yang disebutnya telah memberi semangat dan hasrat serta keinginan untuk terus menang.
"Saya hanya berharap ayah saya masih hidup. Dia akan bangga melihat saya meraihnya," ungkap Fergie pada wartawan pekan lalu. Alex, demikian ayah Fergie juga dipanggil, meninggal dunia saat berusia 66 tahun pada 1978. Saat itu Fergie belum meraih satupun gelar bersama Aberdeen dan kemudian MU.
"(Semangat) ini adalah sesuatu yang Anda miliki sejak lahir. Itu adalah gen Anda. Ayah saya sangat pendiam. Adalah ibu saya yang punya keinginan besar. Ayah saya seorang pekerja keras, yang kerjanya hanya membaca buku. Dia selalu membaca. Ibu saya yang menjalankan rumah," sambung Fergie.
Jika benar mendapat gen dari kedua orang tuanya, Fergie jelas sangat beruntung. Apapun itu, yang jelas dia kini telah menjadi salah satu pelatih terbaik yang pernah ada di muka bumi dengan sederet gelar yang sudah dipersembahkan buat MU.
Titik balik perjalanan Fergie adalah saat dia mengantar MU mengakhiri penantian 26 tahun untuk menjadi juara Liga Inggris saat merengkuh titel juara tahun 1993. Sejak saat itu, sudah 11 titel juara dipersembahkan, itu belum termasuk 20 tropi major dari berbagai kompetisi.
Apa yang dialami Fergie 16 tahun lalu itu kini sedang ditapaki Pep Guardiola. Karir kepelatihan Pep memang baru seumur jagung karena dia baru musim ini menangani tim senior, menggantikan Frank Rijkaard yang kontraknya di putus musim kemarin.
Tapi dunia kemudian mengetahui kalau Pep kemudian menjelma menjadi salah satu pelatih yang mungkin bisa dimasukkan dalam daftar terbaik di Eropa. Mengantar Barca memainkan sepakbola menyerang yang atraktif, final Liga Champions akan menjadi tropi ketiga Guardiola setelah dalam dua pekan ke belakang dia sudah memenangi gelar La Liga Primera dan Copa del Rey.
"Dia punya pengalaman lebih banyak dibanding saya sebagai pelatih. Dan dia punya lebih banyak titel. Tapi saya sangat mengagumi karirnya. Dia telah membawa timnya menjadi juara. Sebuah kehormatan besar buat saya untuk bisa bermain di final bersamanya," sahut Pep di Reuters.
Kisah sukses bersama klubnya masing-masing menjadi persamaan antara Pep dengan Fergie. Perbedaan mencolok antara keduanya adalah soal sukses saat masih aktif sebagai pesepakbola.
Raihan terbaik Fergie adalah mengantar St. Johnstone dan Falkirk menjuarai Divisi Satu Liga Skotlandia (setara Divisi Championship di Inggris). Sementara Guardiola mampu meraih 16 tropi utama berbagai kompetisi mulai dari juara La Liga (6 kali), Liga Champions (1), Copa del Rey (2) hingga Piala Super Eropa (2).
"Ini adalah pertandingan terpenting sepanjang karir saya sebagai pelatih dan pemain. Kami memiliki cara permainan kami sendiri, tapi ada gaya permainan lain yang juga bagus. Jadi kami tak merasa superior. Kami hanya akan fokus pada taktik kami," pungkas Pep yang mengaku sangat beruntung bisa membesut Barca yang punya banyak pemain dengan skill luar biasa.
(din/krs)











































