Di lapangan Dataran Merdeka, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (9/6/2009), Wenger melakukan temu pers dengan para jurnalis dari Malaysia, Vietnam, Thailand, Australia, dan Indonesia (termasuk detiksport) untuk menjelaskan mengenai CPI.
Castrol Performance Index diperkenalkan semenjak Piala Eropa 2008. Dengan menempatkan 16 kamera di sekeliling lapangan, setiap pergerakan, umpan, tembakan, penyelamatan dan hal-hal lain yang dilakukan pemain selalu tercatat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wenger lantas menjelaskan tentang cara kerja CPI. Setiap tindakan pemain yang bagus seperti melakukan operan tepat, akan mendapat nilai positif. Sedangkan tindakan yang tidak bagus, seperti kehilangan bola atau menyebabkan penalti akan mendapat nilai negatif.
Dari sistem dasar itu, CPI yang dikembangkan oleh Wenger bersama nama-nama tenar lain seperti Alan Shearer, Marcel Desailly, Ottmar Hitzfeld, Emilio Butragueno dan Pierluigi Collina akan memberikan bobot mana yang nilainya lebih tinggi atau lebih rendah.
Melalui CPI, seorang pelatih akan bisa menemukan di mana titik kekuatan dan kelemahan timnya dan dengan itu ia akan menentukan strategi yang tepat untuk membawa timnya berprestasi.
"CPI ini juga kami pakai setiap hari. Setiap selesai pertandingan, kami melihat lagi catatannya dan membandingkan dengan indeks tim lain. Seperti misalnya, Manchester United sepanjang musim melakukan 16.500 operan, jumlah operan Arsenal juga sekitar itu."
Setelah diperkenalkan di Piala Eropa 2008 di Austria-Swiss, CPI menurut rencana akan diterapkan pada Piala Konfederasi 2009, Piala Dunia 2010 dan Piala Dunia 2014.
(arp/a2s)











































