Di belantika sepakbola dunia India saat ini hanya anak bawang. Mereka pernah punya kejayaan di masa lampau, ketika pernah meraih medali emas dua Asian Games (1952 dan 1962), serta runner up Piala Asia 1964.
"Setelah tiga tahun di sini, saya pikir tidak ada kemajuan yang cepat di sini. Tak cuma AIFF (PSSI-nya India), seluruh otoritas sepakbola di sini tak punya gambaran yang menyeluruh, tentang standar yang diperlukan untuk berprestasi," demikian Houghton, dikutip Reuters, Kamis (18/6/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di bulan Februari Houghton dan tim asuhannya mendapat sindiran telak dari Menteri Olahraga M.S. Gill. Ketika itu ia mengatakan bahwa timnas India saat ini bisa saja dikalahkan oleh tim sekolahan dari Australia.
"Saya tak tahu apa yang membisiki dia waktu ngomong begitu. Tapi saya rasa, daripada sinis begitu, kenapa dia tidak bertanya pada diri sendiri, kenapa di sini tak ada fasilitas yang memadai," timpal Houghton, yang dulunya pernah bermain sebagai gelandang Fulham itu.
"Kita ini ada di India 2009, dan kami tak bisa menemukan satu pun tempat latihan. Orang-orang pasti tidak percaya kalau Anda bilang begitu."
"Para pemain profesional bertanding di turnamen Santos Trofi melawan sekumpulan pemain amatir di akhir musim. Ini tidak masuk akal. Apakah Anda percaya bahwa Steven Gerrard mau main di pertandingan ecek-ecek di akhir musim?"
"Kalau kita main di turnamen-turnamen kayak begitu, jangan tanya kenapa tim nasional tidak lolos kualifikasi turnamen besar," lanjut pria berusia 61 tahun itu, yang juga merujuk pada catatan terakhir di daftar peringkat FIFA, di mana India ada di urutan 147, atau sembilan anak tangga di bawah Indonesia.
"Kita juga harus melihat kualitas I-League (Liga India). Saya pikir tidak ada klub-klub I-League yang mengikuti kriteria yang dibutuhkan untuk sebuah liga profesional. Kebanyak tim tak punya dokter, pelatih, asisten pelatih, ahli fisio, pelatih kiper dan, paling penting, tempat latihan.β"
Ia lalu meminta pers setempat untuk memberitakan curhat-nya ini dengan perspektif luas. "Kalian ingin dapat headline, membuat kekacauan? Maka kalian harus mencari tahu apa yang sedang terjadi ini, setelah 100 tahun sepakbola India."
"Setelah 100 tahun, kami ada di peringkat 147. Anda bisa memecat pelatih dan merekrut yang baru. Anda bisa mendepak pelatih dan membawa Guus Hiddink atau Jose Mourinho besok. Tapi Anda tetap saja akan di rangking 140. Yang dibutuhkan adalah persepsi orang-orang tentang gambaran besarnya.β"
Hm .... (a2s/arp)











































