Berstatu juara dunia, Italia memulai perjuangannya di Piala Konfederasi dengan cukup meyakinkan usai menundukkan Amerika Serikat 1-3. Namun Gli Azzurri kemudian menelan kekalahan mengejutkan 0-1 atas Mesir dan dipecundangi Brasil 3-0.
Kritikan tajam mengarah ke timk Italia dan pelatih Marcello Lippi dengan usia pemain jadi sorotan utama. Namun menurut Cannavaro, masalah timnas Italia saat ini lebih dari sekedar soal umur, ada kesalahan sistematis dalam persepakbolaan Italia yang berawal dari kompetisi liga domestik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbeda dengan Premier League, sebagian klub Italia masih harus menyewa stadion, hal mana membuat pendapatan mereka kalah jauh dengan Manchester United cs di Inggris. AC Milan sebelumnya juga menyinggung soal pajak Spanyol yang lebih menarik minat pesepakbola untuk merumput di La Liga di banding Seri A.
Faktanya, Liga Italia dari tahun ketahun terus kehilangan kilaunya. Setelah ditinggal Kaka ke Madrid, salah satu bintang Seri A, Zlatan Ibrahimovic juga santer dikabarkan bakal hengkang.
Hal itu, baik secara langsung maupun tidak, berimbas pada daya saing klub-klub Italia di Eropa. Musim lalu tak satupun klub Italia lolos ke semifinal, di mana ada tiga wakil Inggris di sana. Seluruh wakil Italia terkapar di babak 16 besar, ironisnya mereka kalah dari klub Inggris.
"Cukup pembicaraan soal pemain tua, jika (keberadaan) saya mengganggu orang lain, maka posisi saya bisa diambil, tapi Lippi yang membuat keputusan. Saya tak melihat ada yang (pemain) fenomenal di sepakbola Italia. Tada ada lagi Totti-Totti yang lain, Bagio atau Del Piero yang baru."
"Saat ini pemain bertahan cukup dengan bertubuh tinggi, berwajah manis, pirang dan bisa mendribel yang membuat mereka menganggap dirinya sebagai pemain bagus," pungkas Il Capitano yang musim depan membela Juventus itu.
(din/din)











































