Tak heran pertandingan yang bakal dihelat di Stadion Ellis Park, Johannesburg, Jumat (26/6/2009) dinihari WIB, itu disebut bersejarah. Pasalnya, Santana sang arsitek Afsel adalah orang Brasil.
Brasil akan dipimpin Dunga, pelatih yang semasa bermain juga pernah diasuh oleh Santana. Meski akan ada banyak kaitan emosional, seperti sudah jamaknya, pria berusia 60 tahun itu berjanji akan profesional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menghadapi Brasil adalah momen bersejarah. Saya kenal beberapa pemain Brasil secara pribadi tetapi yang terpenting adalah kami memberikan yang terbaik menghadapi salah satu tim terbaik dunia," imbuh Santana.
Mengenai strategi yang akan disiapkannya, Santana mengaku akan menginstruksikan timnya tampil menyerang. Baginya, lebih baik tetap bermain menyerang meski akan menghasilkan kekalahan.
"Mustahil untuk bermain bertahan 90 menit menghadapi Brasil. Kami akan menyerang. Kami mungkin akan kalah, tetapi kami memilih kalah dengan bermain menyerang," kata Santana.
"Kami sudah belajar dari kekalahan 2-0 atas Spanyol. Sekarang kami menghadapi Brasil, kami akan mencoba menandingi mereka dan bermain seindah mereka. Penting untuk tidak merasa takut, kami ingin mempersembahkan sebuah tontonan," janjinya.
(arp/key)











































