Presiden anyar Madrid itu menilai, UEFA masih belum mampu mengadaptasi keinginan dan ambisi klub-klub besar di Liga Champions. Perez ingin agar Liga Champions benar-benar menjadi kompetisi antar para raksasa Eropa.
"Kami ingin menggelar kompetisi European Super League untuk menjamin bahwa tim terbaik akan selalu bermain di kasta terbaik," ujar Perez seperti dikutip dari The Times Online.
Presiden yang dikenal dengan kebijakan menumpuk pemain berlabel superstar di klubnya itu menambahkan, dirinya tidak bermaksud membuat kompetisi tandingan.
Ia hanya ingin agar tim-tim tradisional seperti Madrid, Barcelona, Manchester United, Liverpool, AC Milan, Juventus, bisa saling beradu di level elite di setiap musimnya, tidak peduli mereka bakal finish di posisi berapa di liga domestik.
Namun dalam perkembangan selanjutnya, presiden UEFA Michel Platini justru membuka kesempatan bagi klub-klub di seluruh dataran Eropa untuk berlaga di Liga Champions.
Perez menilai keputusan Platini bisa mengancam eksistensi klub-klub tradisional di kejuaran antarklub Eropa kasta teratas itu. "Hingga saat ini, kompetisi Liga Champions masih belum bisa memberikan jaminan itu," demikian penilaian Perez terhadap kebijakan UEFA.
Pada akhir 1990-an, klub-klub tradisional di Eropa juga pernah melakukan complain terhadap UEFA soal Liga Champions. UEFA mengapresiasi keluhan itu dengan menambah kuota klub dari negara-negara yang memiliki kompetisi kelas atas seperti Italia, Inggris, dan Spanyol.
Bila superliga benar-benar terwujud, Times memprediksi ada 16 klub yang kemungkinan bakal ikut serta. Mereka adalah Real Madrid, Barcelona, Atletico Madrid (Spanyol), Manchester United, Chelsea, Liverpool, Arsenal (Inggris), Inter Milan, AC Milan, Juventus (Italia), Bayern Munich (Jerman), Olympique Lyon (Prancis), FC Porto (Portugal), Glasgow Celtic, Glasgow Rangers (Skotlandia), dan Olympiakos (Yunani).
Foto: Florentino Perez (kanan) bersama pemain baru Real Madrid, Kaka (Reuters )
(nar/nar)











































