Keputusan tidak menggunakan slogan tersebut muncul karena menurut FA, penggunaan slogan-slogan dengan kalimat yang 'besar' justru telah membuat mereka kalah dari Jerman dalam perebutan hak tuan rumah Piala Dunia 2006.
"Saya pikir hal itu arogan dan kami tidak ingin dipandang sebagai orang yang arogan," ujar Chief Executive bidding Inggris Andy Anson kepada AFP di Bangkok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketimbang merancang slogan-slogan yang miskin makna dan malah terdengar sombong, Inggris memilih untuk mengedepankan hal-hal positif yang mereka miliki sebagai alat kampanye.
"Saya pikir kami harus menampilkan sebuah citra yang sangat positif. Seperti misalnya, kami punya Premier League, itu liga yang fantastis. Kami memiliki pemain-pemain terbaik dari seluruh negara. Kami adalah bagian dari olahraga global," kata Anson.
Anson sedang berada di Asia untuk bertemu dengan sejumlah anggota Komite Eksekutif FIFA yang akan memilih tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 pada Desember tahun ini.
Inggris adalah salah satu pesaing Indonesia untuk berebut hak tuan rumah di Piala Dunia 2018. Selain itu, masih ada Australia, Belgia-Belanda, Jepang, Meksiko, Rusia, Spanyol-Portugal dan Amerika Serikat yang juga mengajukan diri.
(arp/din)











































