Apa itu makarapa? Makarapa sebenarnya adalah helm plastik keras yang biasa dipakai oleh pekerja konstruksi. Di tangan para fans sepakbola, helm itu dihias; mulai dari cat warna warni sampai ke asesoris-asesoris rumit seperti gambar pemain atau binatang.
Makarapa diciptakan pertama kali oleh Alfred Baloyi, pria 51 tahun yang sehari-harinya berprofesi sebagai pencuci bus dari Provinsi Limpopo yang kini tinggal di Germiston, kota di dekat Johannesburg.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tergerak oleh kejadian itu, Baloyi mengecat helmnya sendiri dengan warna kuning-hitam khas Kaizer. Tak puas hanya dengan cat, Baloyi lalu menambahkan tempelan-tempelan lain di helmnya.
"Pertama saya cuma mengecat. Lalu, saya mulai menambahinya dengan tanduk, seperti tanduk kambing. Kemudian saya mulai menambahkan gambar pemain di helm itu," katanya kepada Reuters.
Dari senang-senang saja, Baloyi yang mengaku tidak bersekolah dan tidak pernah mendapatkan pelajaran seni mulai memetik keuntungan finansial. Harga sebiji makarapa berkisar antara 120 rand (Rp 154 ribu) untuk desain yang umum hingga 300 rand (Rp 385 ribu) untuk desain khusus.
Makarapa buatan Baloyi dipasarkan oleh Grant Nicholls, seorang pemilik toko olahraga lokal. Untuk Piala Dunia yang akan dihelat kurang dari setahun lagi, Baloyi berencana memproduksi makarapa dengan motif tim-tim asing seperti Brasil, Jerman dan Spanyol.
"Dia adalah seorang seniman yang paling fantastis yang pernah saya temui. Saat dia membuat makarapa-makarapa khusus, orang-orang pasti akan dibuat terkejut," kata Nicholls.
Vuvuzela, terompet dengan suara seperti dengungan lebah, sempat membuat kontroversi di Piala Konfederasi karena dianggap mengganggu pemirsa televisi. Tahun depan, bersiaplah melihat vuvuzela dan makarapa mewarnai Piala Dunia.
(arp/nar)











































